24 Desember 2007 - 06:19 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
Setelah Mendirikan 3600 Perpustakaan, DIMANAKAH KAU JOHN WOOD?
Oleh Firman Venayaksa
Penulis: John Wood
ISBN: 978-979-1227-10-0
Jumlah halaman: x + 368 hlmn
Penerjemah: Widi Nugroho
Penyunting: Hermawan Aksan, Salman Faridi
Harga: 49.000 ,-
Menjadi seorang relawan, apa lagi dengan berbalut kepentingan idealis yaitu membangun perpustakaan untuk meningkatkan minat baca orang-orang adalah persoalan yang menggelikan. Di tengah carut marut perpolitikan, ekonomi dan kebejatan hiruk pikuk koruptor yang berjamaah itu, tentu saja memilih menjadi relawan seperti menarik diri dari lingkaran besar untuk menciptakan lingkaran-lingkaran kecil.
Lima tahun sudah saya menjadi relawan di Rumah Dunia-Banten, sebuah tempat yang awalnya tak pernah saya mimpikan. Seperti kebanyakan sastrawan, saya berkehendak menggegerkan dunia dengan karya saya. Namun setelah beberapa tahun berkarya, rupanya saya belum sampai pada cita-cita itu. Lalu pertemuan dengan Rumah Dunia membuat saya seperti menemukan oase, tempat mengguyur dahaga. Di tempat inilah jiwa saya mengalir. Saya berjumpa dengan begitu panyak persoalan yang membesarkan hati saya. Saya juga bertemu dengan anak-anak ingusan, rewel dan sering menuntut sehingga lama kelamaan tumbuhlah “kedewasaan” dalam bersikap.
Lima tahun jelas bukan waktu yang sebentar bagi saya. Tetapi hingga kini saya tetap betah bersama dengan Gola Gong, Toto ST Radik, Tias Tatanka dan beberapa relawan lain untuk menjalankan Rumah Dunia. Bahkan kini saya menjadi Presiden di Rumah Dunia. Sebuah tanggungjawab besar saya pikul. Awalnya, tentu saja saya agak ragu, apakah mungkin dengan tenaga saya yang terbatas ini bisa menjalankan Rumah Dunia yang di mata orang banyak begitu hebat? Gola Gong dan relawanlah yang terus memompa semangat saya dan berbekal itu hingga kini saya bisa berbahagia, bahkan diundang ke beberapa tempat untuk mempresentasikan Rumah Dunia.
Pada bulan Desember 2007, Rumah Dunia diundang dalam acara Festival Literasi Indonesia di UGM Jogjakarta. Seperti biasa saya ngalor ngidul membincangkan Rumah Dunia dan gerakan budaya baca. Saya pun bersua dengan para relawan seperti Wien Muldian (Kepala Perpustakaan Depdiknas), Sekar (Forum Indonesia Membaca) dan beberapa komunitas literasi yang sudah tak asing lagi di mata saya. Pada waktu itu saya juga berjumpa dengan Ariful Amir, relawan dari Nurani Dunia yang sempat datang ke tempat kami untuk memberikan Mobil bajaj, seperti perpustakaan keliling yang rencananya akan diserahkan pada bulan Januari 2008. Setelah diskusi yang cukup panjang dengan para relawan di tempat itu, sebuah sms datang dari istri saya di Serang. Dia ingin dibelikan sebuah perhiasan perak. Arifpun dengan rela menemani saya ke Kota Gede dengan relawan 1001 buku yang saya lupa namanya. Begitu selesai mendapatkan perhiasan, kami makan siang di Omah Duhur. Di sanalah dia membincangkan John Wood yang berani meninggalkan Microsoft untuk mengubah dunia dengan mendirikan 3600 perpustakaan di Asia. Ketika mendengar ini, saya jadi teringat dengan seorang pengusaha travel di Banten yang kebetulan nama depannya sama yaitu Arif Kirdiat. Ketika saya memesan tiket (lebih tepatnya menghutang) dia tiba-tiba mengeluarkan buku yang sama, lalu membincangkan John Wood. Ah, sebuah kebetulan yang sempurna! Karena dia tahu saya adalah relawan Rumah Dunia, saya pura-pura seolah-olah pernah membaca buku itu, tapi demi Tuhan saya ingin sekali mengatakan, “pinjam bukunya dong. Saya penggiat literasi, yang lupa membaca buku bagus!” sayangnya perkataan itu tak keluar dari mulut saya sehingga saya betul-betul mengutuk diri saya yang sok pintar dan melewatkan lembar demi lembar buku John Wood yang pasti gurih itu.
Halaman: [ 1 ] 2  
|