05 Januari 2008 - 00:17 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
KEMAH MENULIS RUMAH DUNIA
MEMOTIVASI TERUS BERKARYA
Ketekunan, dan mental yang kuat adalah salah satu kunci untuk menjadi penulis. Karena itulah seorang penulis pemula membutuhkan suasana yang bisa mendukung semangatnya untuk tetap menulis. Sebagai ajang untuk menumbuhkan atmosfir dunia kepenulisan Rumah Dunia, komunitas menulis, sastra, jurnalistik Serang ngadain kemah menulis pada Sabtu-Minggu (22-23/12) lalu. Meskipun masih di tengah suasana lebaran Idul Adha, para peserta yang ikut dalam kemah menulis yang bertempat di Lumbung Ilmu Ciracas ini tetap mengikuti rangkaian acara dengan semangat. Hadir sebagai pembicara dalam kesempatan ini adalah Firman Venayaksa, sebagai Presiden Rumah Dunia. Firman yang juga penulis novel Sayap-Sayap Ababil ini mengungkapkan bahwa seorang penulis dibutuhkan kejatian diri dalam menulis. Maksudnya seorang penulis harus percaya dengan apa yang ditulisnya. Sementara Toto St Radik yang menyampaikan materi puisi mengutarakan bahwa menjadi penulis harus berani memilih dan mengambil risiko. Risiko secara ekonomis maupun secara batiniah. “Misalnya seorang penulis puisi secara ekonomis miskin. Maka ia harus berani menanggung risiko itu dengan kemiskinannya,” kata penyair yang dijuluki Presiden Penyari Banten ini.
“Yang paling penting memang kita tetap sabar saat tulisan kita ditolak oleh penerbit,” kata Toto St Radik. Mas To, panggilan akrab Toto mengaku pernah menjalani masa-masa yang tidak menentu selama empat tahun. “Selama itu saya menunggu-nunggu puisi saya dimuat,” cerita Toto St Radik.
Selain Toto St Radik hadir sebagai pemateri pada hari ke-dua Gola Gong. Penasehat Rumah Dunia ini menyampaikan materi tentang fiksi dan peluang dimuat di berbagai media massa. Gong yang baru saja menerbitkan novelnya yang berdasarkan skenario film Miracle; Menunggu Kematian ngungkapin saat ini begitu banyak wadah yang bisa mempublikasikan karya para penulis pemula. Gola Gong juga mengundang para peserta untuk menulis di majalahnya yang baru saja launching yaitu Kaibon. “Honornya sama dengan koran yang ada di Banten,” Gong menawari. Tapi tentu saja Gola Gong akan menilai karya itu terlebih dahulu.
Awi Seruling, salah satu panitia Kemah Menulis ke-3 Rumah Dunia mengungkapan acara kemah menulis akan terus digelar secara rutin oleh Rumah Dunia sebagai rangsangan terhadap dinamika kepenulisan di Banten. “Semoga dengan mengadakan kemah menulis ini, dunia kepenulisan di Banten terus menggeliat. ” (aji/)
 
|