12 Januari 2008 - 04:15 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
MEMBENTUK DAN MENCERDASKAN GENERASI BARU, BERMINAT?
Oleh Firman Venayaksa
Assalamualaikum,
Salam sejahtera
Kawan-kawan yang berbahagia, tak terasa, kini Rumah Dunia sudah membuka tirai selanjutnya di tahun ke-6 semenjak berdiri. Sebagai sebuah komunitas literasi yang dimulai pondasinya oleh Gola Gong, Tias Tatanka, Toto ST Radik dan (alm) Rys Revolta, Rumah Dunia telah mengunyah segala aral yang melintang. Dengan konsep saling berbagi dan motto “membentuk dan mencerdaskan generasi baru” program demi program telah dijalankan, kendati terkadang terseok dan penuh keterbataan. Namun hal tersebut tak hendak membuat surut. Semakin banyak orang yang saling berjabat erat di tempat ini, gelombang energi itu kian besar dan membuncah.
Kami sadar, bahwa kami tak bisa sendiri, kendati orang-orang datang dan pergi. Dulu Rumah Dunia didatangi oleh para relawan militan seperti Ibnu Adam Aviciena yang kini sedang berbahagia dengan studinya di Belanda. Ada juga Lawang Bagja yang dengan semangatnya membuat film indie, kini menjadi ekspatriat di Abudhabi. Belum lagi Rimba Alangalang yang kami rindukan, Endang Rukmana yang sakit ½ jiwa karena novel-novelnya laku keras di pasaran, Adkhilni, dan masih banyak lagi (terlalu pendek media ini jika di absen satu persatu).
Pada akhir 2007 Langlang Randawa pindah “base camp” ke GMC supaya berkonsentrasi di tabloid Kaibon bersama Feri Benggala, Yoan, Igun dan Piter Tamba.Pada awal tahun 2008, Shadik “sang tukang roti” pun meninggalkan Rumah Dunia, untuk mencari penasaran pengertian (meminjam istilah Rendra). Lantas yang tertinggal adalah Firman Venayaksa, Aji Setiakarya, Muhzen Den, Roy, Indra Kesuma dan Alwi. Untung saja para penasehat seperti Gola Gong, Toto ST Radik, Tias Tatanka terus bersemangat untuk terjun bebas di Rumah Dunia. Andi Suhud tak henti memasok apa yang Rumah Dunia butuhkan, begitu pula dengan Abdul Malik yang masih getol menjambangi. Sementara itu, Prof. Dr. Yoyo Mulyana, M. Ed yang telah lengser dari jabatannya sebagai rektor Untirta--dengan bisikan mautnya-- terus menasehati kami. Tak jarang ia datang menjadi pemateri bahkan pada lomba baca puisi ia siap menjadi juri.
Pada tahun 2007, semua agenda kami bereskan. Program reguler berjalan apa adanya. Crash Program seperti kedatangan murid-murid TK hingga Komunitas Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dari 30 provinsi se-Indonesia kami jamu ala kadarnya. Kerjasama dengan pelbagai instansi teragendakan dengan baik. Sebagai contoh, kami bekerjasama dengan Diknas untuk lomba baca cerita rakyat yang salah satu jurinya adalah sastrawan Putu Wijaya. Agenda tahunan pun cukup membanggakan. Pesta ulang tahun Rumah Dunia ke-5 dan Pesta Anak membuat anak-anak bahagia dengan pelbagai lomba-lomba tradisional. Ode Kampung III: Temu Komunitas Sastra se-Indonesia yang bekerjasama dengan komunitas se-Banten membuat geger peta kesusastraan Indonesia. Mengumpulkan 300 sastrawan bukan persoalan mudah, apa lagi menampung setiap pemikiran yang berkembang. Akhirnya perdebatan di media nasional selama beberapa bulan jelas tak terhindarkan.
Untuk Banten, kami membuat “Lumbung Banten” dengan harapan segala macam dokumentasi tentang kebantenan kami upayakan kehadirannya. Menutup agenda kerja 2007, kami datangkan dua penyair besar Indonesia yaitu Taufiq Ismail dan Goenawan Mohammad dalam acara temu penulis. Ratusan orang memadati pelataran Rumah Dunia, saling berdiskusi, saling berpendapat akhirnya saling berbagi kebahagiaan.
Halaman: [ 1 ] 2  
|