16 April 2008 - 00:32 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
RUMAH HUTAN, SURGAKU!
Oleh Gola Gong
Pernahkah kita membayangkan, kalau hutan adalah tempat yang nyaman bagi kita? Bukankah selama ini hutan identik dengan semak belukar, ular, dan setan? Setidak-tidaknya, begitulah yang ada di benak masyarakat Kampung Bojong, Cilowong, Serang. Tapi, siapa pernah menyangka, jika hutan yang kita bayangkan seperti itu ternyata tidak terbukti?
CITA-CITA
Lim Oei Ping (67 th), lelaki keturunan Cina yang lahir 29 April 1941, di Paleleh, Sulawesi Tengah, dan merantau ke Serang sejak 1962, punya cita-cita ingin menjadikan hutan di Banten sebagai surga. Koh Iping, panggilan akrabnya, dengan bertumpu pada sebatang kayu, menaiki serta menuruninya untuk sampai ke “surga” miliknya, di tengah hutan, gunung Sayar, persis di Kampung Cidampit, Bojong, Cilowong, Serang. Usianya yang lanjut tidak menjadikan laki-laki yang Hobi membaca dan main Badminton ini loyo, malah seperti masih berusia 50-an saja.
”Saya ingin membawa hutan di kampung saya ke Banten. Di kampung saya, di daerah Paleleh, hutan sangat nyaman untuk dihuni, dijadikan tempat berkebun dan bercocok tanam. Tidak ada kesan angker. Tapi anehnya di Banten, orang-orang membiarkan hutan dipenuhi semak belukar, seram, dan jadi sarang ular tanah. Malah ada yang menganggap hutan itu tempat setan!” kata pemilik Toko Krakatau di Royal ini.
Koh Iping pelan-pelan mewujudkan cita-citanya. Pada 2005, dia membeli tanah seluas 6000 m2. ”Saya ajak beberapa warga untuk menatanya. Pohon-pohon yang tidak perlu dibabat, sehingga beberapa pohon durian tampak indah seperti bonsai raksasa. Semak-semaknya dibuang. Saya tanami rumput,” kenangnya.
Lalu dia membangun pondok-pondok, lumbung padi, perpustakaan, lapangan badminton, kandang ayam dan kambing. Diberinya nama ”Rumah Hutan”. Koh Iping berkelakar, ”Sekarang ’Rumah Dunia’ ada saingan, yaitu ’Rumah Hutan’ punya saya.” Setiap sebulan sekali, dia datang ke surganya. ”Saya paling suka duduk di paninjauan ini,” katanya. Paninjauan adalah pondok kayu 2 lantai. ”Saya merasa bahagia melihat pohon durian. Jika diibaratkan perempuan, kita bisa melihat utuh pohon durian dari mulai kaki, tangan, hingga ujung rambutnya.”
TREE IN ONE
Bagi Koh Iping yang menyukai alam bebas, hutan adalah anugrah terindah dari Allah SWT. ”Bodoh, jika kita menyia-nyiakannya. Hutan itu harus tree in one; bisa dihuni, ditanami, dan jadi tempat berternak.” Suami dari Inayah ini tahu, menghuni hutan sangat bertentangan dengan tradisi di Banten yang agamis. ”Bagi warga di Kampung Bojong ini, tinggal di hutan sama saja dengan menyalahi aturan. Bagaimana nanti ke mesjid, untuk sholat berjamaah? Padahal bagi saya, hutan itu mestinya nyaman. Semua yang kita inginkan ada di hutan. Kita tidak perlu menanam, tinggal merawat saja, sehingga nanti panen bisa berlipat-lipat.”
Halaman: [ 1 ] 2  
|