07 April 2009 - 23:56 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
SPIRITUAL READING: MENGINGATKAN TENTANG PRIORITAS BACAAM
Oleh Langlang Randhawa*
Judul : Spiritual Reading; Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca
Penulis : Dr. Raghib As-Sirjani & Amir Al-Madari
Penerbit : Aqwam
Tahun Terbit : 2007
Tebal : 208
Ragam metafor kerap dipakai orang manakala membicarakan aktivitas baca membaca. Sebagaian mengatakan, membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah gudang ilmu. Membaca menghapus kebodohan. Membaca adalah anu. Membaca adalah bla bla. Begitu kaya perumpamaan yang telah dilahirkan para pembaca. Anda pun bisa melahirkannya. Kerena memang tak ada larangan.
Bagi saya, bacaan adalah racun yang mengobrak-abrik tatanan segi pemikiran seseorang. Baik menjungkirbalikkan yang baik menjadi buruk atau sebaliknya. Buku bisa menyakiti. Buku juga bisa menjadi penawarnya. Akibat membaca, Muslim jadi Kafir. Kafir menjelma Muslim. Laki-laki alim menjadi bocah urakan. Si urakan mendadak alim. Gadis berjilbab menjadi seksi, dan si seksi segera berjilbab. Begitulah bacaan mengaduk-aduk otak pemahaman kita.
Secara khusus tulisan ini saya persembahkan kepada umat Islam. Sejarah telah mencatat bagaimana bacaan menjadi pegangan ideologi yang bermula dari gagasan individu merambat menjadi kepercayaan berjamaah. Kita mengenal bangsa Yahudi dengan Negara Israelnya. Barangkali Israel tidak akan pernah ada di muka bumi ini jika seandainya Benyamin Se’eb alias Theodore Herzl tidak menulis buku tipis bertajuk Der Judenstaat (The Jewish State). Bersama karya fiksinya yang berjudul Altneuland (Old New Land), buku ini telah menginspirasi jutaan orang Yahudi untuk bergerak mendirikan negara Israel dengan merampas hak-hak warga Pelestina. (Mohammad Fauzil Adhim, 2005)
Bacaan yang bergenit-genit. Genit isinya. Genit penulisnya. Genit ideologinya. Hal itu tentu saja membuat pembacanya menjadi genit nan centil pula. Saya sarankan, segera “lempar” dulu bacaan itu sekarang juga. Tapi sayangnya tidak sedikit orang yang mengaku ingin mengusung dan mendongkrak wawasan diri malah asyik menikmati bacaan itu. Lalu diceritakanlah kegilaan di buku itu. Blar.. dan seketika virus gendeng sudah menular cepat dengan indikasi retorika menggebu dan penampilan berdebu. Tak ada kesedihan yang besar menimpa bumi selain orang gila yang cerdas menyebarkan penyakit gila secepat merebaknya kentut. Jadi membaca jangan asal baca. Lantas, buku seperti apa yang harus dibaca jika demikian? Bukankah dengan buku kita seolah mengarungi laut lepas?
Jawabannya, semua buku harus dibaca. Betul jika membaca adalah mengarungi laut lepas demi mencapai pantai indah kecerdasan. Hanya saja persiapkan diri Anda sesiap-siapnya untuk membaca. Selayaknya orang hendak mengarungi lautan, meski tidak memiliki wawasan navigasi dan ketahanan hidup di laut, paling tidak ia mempunyai kemampuan berenang yang mumpuni. Bahasa anak muda sekarang, silahkan gaul asal jangan lebur.
Halaman: [ 1 ] 2  
|