About  |  Activity  |  Home  |  Volunteer  |  Populer  | 
 
 

     Sabtu, 11 September 2010     
 R U B R I K
Agenda
Brankas
Catatan Perjalanan
English Version
Gerbang
Jurnal
Kelas Menulis
Kliping
Lintas Komunitas
Ode Kampung
Parade Karya
Pustakaloka
Rintisan Balai Belajar Bersama
TBM@Mall Banten Membaca
Tips
Warta Relawan
 Gerbang
KISAH SI PEMOTONG RUMPUT ALIAS SENIMAN PLAT BAJA
Oleh Gol A Gong*
Seorang lelaki bertubuh kurus mematikan alat pemotong rumputnya. Telinganya terasa plong setelah sekitar 2 jam lebih dicekoki bunyi “gggrrkkkkkk…” mesin pemotong rumput. Rambut gondrongnya dikuncir. Keringat yang mengucur di wajahnya diusap dengan punggung...
08 September 2010 - 09:37
Arsip... 
 Warta Relawan
DARI PEDAGANG GORENGAN, JADI RELAWAN RUMAH DUNIA, WARTAWAN SEKALIGUS LOPER KORAN BANTEN RAYA POST, K
Oleh Harir Baldan
“Alhamdulillah...” itulah kata syukur yang terucap dari mulut saya usai menggelar rapat evaluasi Pesta Anak Rumah Dunia, Minggu (25/7) lalu. Ucapan rasa syukur dan terima kasih itu saya haturkan kepada para donatur Rumah Dunia yang sudah membantu berlangsungnya kegiatan di...
08 Agustus 2010 - 00:40
Arsip... 
 Balada Si Roy

03 Pebruari 2005 - 20:47   (Diposting oleh: Gola Gong)
[Di balik Layar 6] TIGA KALI TIGA METER
Oleh Gola Gong

Di redaksi majalah HAI, saya bertemu dengan Hilman, Boim, dan Gusur. Juga dengan Adra P. Daniel. Cerita bersambung mereka dimuat di majalah HAI lebih dulu daripada saya. Mereka anak-anak muda, yang tidak berbeda dengan saya, ingin menjadikan menulis sebagai profesi. Mbak Sri, sekretaris redaksi, memperkenalkan kami.

"Oh, ini Gola Gong," kata Hilman, tersenyum. Kami berjabatan tangan. Boim juga. Hilman memuji "Balada Si Roy", yang baru muncul empat episode sudah menggebrak. "Sangat laki," tambh Hilman. Saat itu Hilman yang tidak banyak bicara, masih kuliah di Uiversitas Pancasila, Boim yang hobi ngocol dan itemnya minta ampun, di STP (sekarang IISIP Lenteng Agung), Adra yang kemayu di IKIP Rawamangun. Gusur yang kalau bicara seperti pejabat kelurahan, tidak kuliah, sama seperti saya. Pertemuan yang menyenangkan dengan mereka. Saya merasakan, bahwa kai mempunya mimpi besar sama. Saaat itu mereka sedang pada puncak keemasan. Hilman, Boim, Gusur adalah ikon masjalah HAI. Mereka road show ke hampir seluruh provinsi di Indonesia, mengusung “pers abu-abu” dari sang big boss, Arswendo Atmowilo.

Dari Boimlah saya memperoleh informasi tentang kos-kosan. Bahkan dia mengantar saya mencari kosan. Di Palmerah II, dekat SMA Santa Ursula dan SMA 16. Rumah Gusur juga di sekitar itu. Di dalam gang kecil. Ukuran kamarnya 3 kali 3 meter, seharaga Rp.75.000,-. Boim juga kos di sana. Pemiliknya Betawi asli; mempunya 10 kamar. Untung masih ada yang kosong. Saya kebagian kamar paling ujung.

Hanya kamar kosong. Belum ada apa-apa. Seharian itu saya membereskan “istana” saya. Dinding batako sebelah selatan saya tempeli “wall paper” dari koran-koran ibukota. Lantai saya pel. Malamnya, saya kelelahan dengan sehelai tikar pinjaman dari pemilik kos. Belasan surat dari pembaca “Balada Si Roy” saya baca. Menyenangkan sekali membaca surat-surat mereka; dari Jakarta, Solo, Yogya, bahkan ada yang dari Meda, dan Makasar. Rata-rata mereka menyukai tokoh “Roy”, yang sangat berbeda dengan “Lupus”. Bagi mereka, “Roy” seolah representasi dari kegelisahan jiwa muda mereka. Rata-rata dari mereka memyukai petualangan dan suka naik gunung. Surat-surat saya dekap dan saya biarkan menemani malam saya, yang sangat sensasional dan emosional.

Kedua mata saya menatap dinding kamar sebelah selatan. Disana terpampang “wall paper” dari koran-koran. Berita-berita headlinenya menyerbu mata batin saya. Saya paling menyukai menatap huruf-huruf headline di surat kabar. Dari sana otak kiri dan otak kanan saya bekerja dengan cepat, bertindihan ingin berebut tempat. Malam itu saya punya banyak rencana. Tapi, mesin tik masih di tempat Herdi. Jika kalian pembaca balada Si Roy, di sana akan ditemukan tokoh "Edi". Idenya, memang, dari personifikasi Herdi. Dalam keseharian, Herdi sering sekali "menasehati" saya, agar jangan terlalu sering meninggalkan Emak. Herdi sering tidur di rumah saya saat SMA dan dia anak asuh Emak.

Saya hanya merasa “shock” saja, karena mulai malam ini, di tahun 1988, saya menempati sebuah kamar, yang saya bayar dari keringat sendiri. Tidak lagi dari orangtua. Umur saya 25 tahun. Sudah cukup tua untuk disebut mandiri. Tapi, semuanya sesuai dengan rencana besar saya. Harus pelan-pelan dan tidak terburu-buru.

Bagi saya yang tinggal di kampung, strategi dengan mengukur kemampuan diri, sangatlah penting. Saya datang ke Jakarta tidak ingin bernasib seperti kaum urban lainnya, yang jadi penonton di pinggir jalan. Saya ingin semuanya dengan perhitungan matang. Kalau ibarat pesilat, cukup sudah berguru di padepokan. Sekaranglah saatnya turun gunung untuk mengadu ilmu dengan pendekar dari perguruan lain. Analogi ini saya kenakan pada dunia kepenulisan. Saat itu saya merasa batin saya sudah cukup untuk menceburkan diri pada dunia kepenulisan.

Seperti yang dikatakan Ismail Marahimin dalam buku “Menulis Secara Populer” (Pustaka Jaya, 1994:17), bahwa untuk dapat ‘menulis’ kita harus banyak ‘membaca’. Membaca adalah sarana utama menuju ke ktrampilan menulis. Membaca memberikan berbagai-bagai ‘tenaga dalam’, yang sangat dibutuhkan oleh penulis. Nah, saya pada saat itu, merasa memiliki ‘tenaga dalam’ yang sangat tinggi! Saya dalam keadaan siap tempur, berkompetisi dengan penulis-penulis lain.

Tekad itu saya ikrarkan di kamar tiga kali tiga meter. Sangat beralasan, karena di majalah HAI; setiap terbit selalu muncul dua serial secara “head to head”. Saat pemunculan “Balada Si Roy” langsung berhadapan dengan “Lupus” yang ditulis Hilman. Serial "Lupus" ditempatkan di halaman awal, sedangkan "Balada Si Roy" di halaman belakang; serial nomor dua. . (bersambung ke bagian 7) ***  

 Kirim ke teman Versi cetak Beri nilai Komentar (View: 1040 | Refer: 0 | Print: 116 | Rate: 0.00 / 0 votes | Comment: 0)

Selanjutnya:
[Di balik Layar 11] GANK RAT DI BALADA SI ROY – 03 Agustus 2005 - 20:09
[Di balik Layar 10] SUM-SUM BALADA SI ROY DAN AZETA – 06 Mei 2005 - 09:38
[Di balik Layar 9] BALADA SI ROY GENERASI JAGUAR! – 15 Maret 2005 - 06:18
[Di balik Layar 8] BALADA SI ROY LAYAK DITERBITKAN JADI NOVEL – 22 Pebruari 2005 - 10:58
[Di balik Layar 7] PENGARANG BERLENGAN SATU – 15 Pebruari 2005 - 19:57

Sebelumnya:
[Essay Roy 6] ROY, DUNIA BARU, DAN PETUALANGAN – 01 Pebruari 2005 - 17:08
[Apa Kata Mereka 3] BEPERGIAN KECIL-KECILAN: – 24 Januari 2005 - 18:25
[Apa Kata Mereka 2] MENEMUKAN AKU – 24 Januari 2005 - 18:22
[Di balik Layar 4] HONOR PERTAMA BALADA SI ROY – 22 Januari 2005 - 22:50
[Di balik Layar 3] MAKNA FILOSOFI GOLA GONG – 19 Januari 2005 - 17:52

Supported by Intervisi

didukung oleh RumahSehat.com
 Artikel Terbaru
Agenda:
MINGGU INI, ADA KADO LEBARAN DI TAMAN BUDAYA RUMAH DUNIA
Agenda
Brankas:
RUMAH DUNIA MELUNCURKAN RINTISAN BALAI BELAJAR BERSAMA 2010
Brankas
Catatan Perjalanan:
RELAWAN RUMAH DUNIA MANCING DI GANDARIA
Catatan Perjalanan
English Version:
THE SECRET MILLIONAIRE
English Version
Gerbang:
KISAH SI PEMOTONG RUMPUT ALIAS SENIMAN PLAT BAJA
Gerbang
Jurnal:
KADO LEBARAN RUMAH DUNIA PESTA UNTUK ANAK
Jurnal
Kelas Menulis:
KELAS MENULIS RUMAH DUNIA ANGKATAN KE-16 DIBUKA
Kelas Menulis
Kliping:
MASYARAKAT YANG KACAU
Kliping
Lintas Komunitas:
FAHMIL QUR’AN: SAMBUT RAMADHAN DENGAN IKHTIFALAN
Lintas Komunitas
Ode Kampung:
ODE KAMPUNG #4: BANTEN ART FESTIVAL DI TAMAN BUDAYA RUMAH DUNIA
Ode Kampung
Parade Karya:
[KATA PENGANTAR BUKU ‘GERIMIS JANUARI’] MULTATULI: YA, AK U BAKAL DIBACA!
Parade Karya
Pustakaloka:
KIAT MENULIS RESENSI BAGI PEMULA
Pustakaloka
Rintisan Balai Belajar Bersama:
MENULIS RESENSI BUKU DI NaRD
Rintisan Balai Belajar Bersama
TBM@Mall Banten Membaca:
NGABUBURIT DI TBM@MALL CARREFOUR
TBM@Mall Banten Membaca
Tips:
CARA MENGUATKAN KARAKTER DI NOVEL SERIAL
Tips
Warta Relawan:
DARI PEDAGANG GORENGAN, JADI RELAWAN RUMAH DUNIA, WARTAWAN SEKALIGUS LOPER KORAN BANTEN RAYA POST, K
Warta Relawan

© RumahDunia.Net website RumahDunia.net sejak 24 Desember 2004