07 November 2009 - 23:25 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
ASMA NADIA MUTER FILM “EMAK INGIN NAIK HAJI” DI RUMAH DUNIA
Esdthi-annida online
Tiba-tiba telepon berdering. “Mbak, 14 November di Rumah Dunia ada kegiatan, nggak?” begitu Asma Nadia bertanya ke Tias Tatanka. Asma Nadia adalah penulis permpuan Indonesia mutakhir. Asma sudh menyabet banyak penghargaan “Adhikarya IKAPI”. Dia juga sering diundang mengikuti pelatihan kepenulisan di luar neger. November 2009 ini Asma baru saja kembali ke tanah air setelah sebulan di Geneva, swiss.
Asma Nadia adalah penulis yang rendah hati. Ketika orang-orang sibuk mengundangnya untuk jadi pembicara, kepada Rumah Dunia selalu menyempatkan diri datang jika diundang. Bahkan dia mejnawrkan diri untuk berbahi ilmu jika waktu luang. “Rumah Dunia memiliki visi yang sama dengan Asma!’ katanya
Maka Sabtu, 14 November 2009, pukul 13.30, Asma akan datang ke Rumah Dunia. Asma membawa putinya; Putri Salsa. Asma akan membagikan pengalaman serta proses kreatifna saat menulis buku “Emak Ingin Naik Haji (ANPH) da “Muhasabah Cinta Seorang Istri” (ANPH). “Nanti bonusnya, muter thriller film ‘Emak Ingin Naik Haji’!”
Film “Emak Ingin Naik Haji” serentak diputar di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 12 November 2009. Sebelum nonton film, baca bukunya dulu. Saat membaca bukunya, siapin kertas tissue atau saputangan sebelum baca buku ini ya. Sekumpulan cerita pendek pilihan Asma Nadia dalam buku ini, hampir semuanya mampu menggedor sisi kepekaan pembaca. Meski mungkin saja ketika baca judulnya kita bertanya-tanya, apa sih istimewanya kalau Si Emak kepengen pergi haji?
Dari gaya tuturnya yang lincah melompat-lompat, kita serasa diajak berkeliling dari lokasi dan adegan satu ke lokasi dan adegan yang lain. Lumayan filmis gitu. Yang bikin rada-rada trenyuh, Asma menampilkan sosok Emak yang tua, polos, sederhana juga miskin tapi pengeeen banget naik haji dan nyicip air zam-zam sangat ironis sama tokoh Juragan Haji. Si juragan yang merupakan tetangga terdekat Emak ini, bolak-balik naik haji. Saking tajirnya, pergi haji selalu sama-sama istri dan bahkan pernah membawa 22 orang sanak keluarga. Sementara, anak tunggal si Emak, Zein (pelukis dan pedagang kaligrafi) ingin bisa mewujudkan impian ibunya itu. Sayang, Zein sempat kepleset dalam bertindak ...
Polosnya Emak, tergambar dalam dialog dengan anaknya.
"Kalau jalan kaki (ke Mekkah, red), berapa jauh Zein?"
"Jaman sekarang kagak mungkin, Mak."
"Masjidnya bagus di sono, ya Zein? Lampunya banyak," Emak terkekeh.
"Eh, berape sekarang ongkosnya, Zein?"
Selain tokoh sentral ibu beranak itu, ada juga tokoh lain seperti seorang anggota dewan yang doyan selingkuh sama sekretarisnya. Dia mau naik haji demi mendapat gelar yang bisa mendongkrak perolehan suara dalam pemilihan, istri si anggota dewan itu dan Sri, anak Juragan Haji. Gimana keplesetnya Zein dalam bertindak, dan ending cerpen ini, tentu lebih seru kalau dikudap sendiri.
Cerpen-cerpen lain, menyentuh juga. Entah sengaja atau tidak, sepertinya Asma membuat selang-seling antara cerpen kritik sosial dan kisah cinta. Sesudah Emak Ingin Naik Haji adalah Cinta Begitu Senja yang bikin kita gregetan. Selanjutnya cerpen Koran, yang ditata sedemikian rupa runutnya, jadi terkesan memang sudah diatur begitu. Si tokoh mulanya getol banget baca surat kabar, katanya dengan koran ia bisa jadi pintar. Lama-lama si tokoh muak, soalnya berita-berita buruk terus yang disuguhkan, dan itu menyangkut orang-orang terdekatnya. Sampai-sampai ia fobia sama koran.
Pada dasarnya semua menarik, dengan plus dan minus tiap-tiap cerita. Bahasa Asma yang relatif ringan dan kriuk-kriuk ini, pas buat kita yang pengen baca sembari mengasah kepekaan dan membangkitkan semangat toleransi, solidaritas dll. Kulik langsung saja ya, habis baca pandangan kita jadi lebih benderang (soalnya sudah cuci mata juga) ... insyaAllah! [Esthi-annida online]
 
|