|
13 November 2009 - 01:22 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
TIPS MEMILIH BAHAN BACAAN YANG TEPAT
Oleh: Mushadiq Ali
Cara memilih bahan bacaan yang tepat, bergizi tinggi dan bermanfaat? Berikut ini adalah beberapa poin penting yang perlu diperhatikan agar bisa memilih “bacaan” yang benar-benar tepat dan mengambil manfaatnya;
1. Sesuai dengan Prioritas
Artinya, lihatlah dan tanyakan pada diri sendiri. Apa yang sebenarnya paling dibutuhkan? Apa yang sedang ingin kita kuasai dan benar-benar urgent bagi kita? Pilih dan sesuaikan bahan “bacaan” dengan kondisi, waktu, dan tingkat prioritas. Bagi seorang pelajar jurusan sastra, tentu saja ia yang harus mendapatkan proporsi lebih baginya adalah buku bacaan sastra. Bukan malah berkutat dalam rumus-rumus kimia. Sementara bagi seorang guru TK, sudah selayaknya ia harus lebih banyak meluangkan waktu membaca dan menelaah bahan bacaan mengenai pendidikan anak ketimbang menghabiskan waktu mengisi buku Teka-Teki Silang.
Trik ini berguna agar kita fokus dan bisa menguasai pendalaman satu bidang tertentu dan tidak terjebak dalam banyaknya pembahasan materi tanpa penguasaan isi. Yang mana akhirnya, alih-alih membuat kita memahami permasalahan, malah membuat kita kebingungan sendiri dalam kumparan wacana dangkal. Ini sejalan belaka dengan hadits Nabi Muhammad Saww,: “Janganlah kau mempelajari semua ilmu karena sesungguhnya ilmu itu sangat banyak. Pelajarilah apa yang paling penting, kemudian yang lebih penting, kemudian yang penting. Selain itu, adalah kesia-siaan.”
2. Pilihlah Sumber yang Tepat
Cucu Nabi Muhammad SAW yang terkenal akan keilmuannya, guru dari para Imam empat Madzhab, Imam Ja’far as-Shadiq ra mengatakan, “Perhatikanlah olehmu darimana sumber airmu.”
Ya, perhatikan dari mana kita mengambil bahan bacaan kita. Jangan sampai waktu kita terbuang hanya untuk menelaah tema-tema junks yang tidak bermanfaat atau bahkan seringkali bertentangan dengan kemaslahatan umat. Lihatlah siapa sumber ilmu kita. Apakah ia adalah golongan pemikir yang komitmen, berdedikasi, dan berperan aktif terhadap kemaslahatan umat? Ataukah tak lebih dari seorang rakus yang menggunakan penanya hanya sebagai topeng untuk menggendutkan perutnya belaka? Apakah ia adalah penganut jalan kebijaksanaan Ilahi ataukah ia hamba pemikiran materialis yang jauh dari keadilan dan kasih-sayang? Ingatlah baik-baik bahwa “kita adalah apa yang kita makan.” Tentu kita tak mau bukan, memakan makanan dari sumber yang meragukan dan bahkan membahayakan?
Berkaitan dengan ini Imam Ali ra menyebutkan bahwa salah satu ciri nasehat yang layak didengarkan, selain tentu saja yang bermanfaat secara substansial bagi perkembangan diri kita adalah “jika ia diawali untuk kemaslahatan ummat”. Jika ia diawali dengan kemaslahatan ummat, ikutilah. Jika tidak, tinggalkanlah.
3. Bacalah dengan “cara baca yang tepat”
Setelah kita menetapkan prioritas dan memilah mana sumber “bacaan” yang tepat, maka langkah penting selanjutnya adalah kita harus membaca “bacaan” tersebut dengan “cara baca yang tepat”.
Halaman: [ 1 ] 2  
|