16 November 2009 - 15:57 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
MENYUSURI SITUS BANTEN DENGAN SEPEDA ONTEL
Oleh Ahmad Wayang*
Minggu (15/11) pagi yang cerah, ketika itu jarum jam baru menunjukkan pukul 06.30. dan angin pagi itu bertiup dingin menyegarkan tubuhku. Udara sejuk begitu segar terasa. Aku dan Gading sudah bersiap olahraga dengan sepeda Ontel Rumah Dunia sambil iseng-iseng mencari berita dan foto-foto tempat yang menarik.
Sepeda Ontel kami kayuh pelah-pelan menyusuri jalan bebatuan Rumah Dunia menuju jalan beraspal. Di sepanjang jalan Bayangkara kota Serang, aku selalu menebar senyum pada orang-orang yang lewat. Saran ini kami dapat dari mas Gong, katanya kita harus ramah pada orang-orang. Tentu ada resikonya dengan senyam-senyum nggak jelas ini, bisa-bisa disangka orang yang sedang tebar pesona atau dianggap tidak waras. Tidak apa-apa. Daripada kita pasang wajah cemberut tiap ada orang lewat. Bisa-bisa kita disangka sombong atau paling parah kita dianggap menantang. Jika hal itu terjadi urusannya bisa tambah panjang. Syukur-syukur hanya sekadar dibentak, tapi kalau sampai dipukulin? Bisa berbahaya. Jangan sampai deh.
Sedikit cerita tentang sepeda ontel yang aku pakai ini. Sepeda ontel ini ‘warisan’ dari bapak Presiden Rumah Dunia, Firman Venayaksa, “Pakai saja. Daripada di rumah nggak dipakai,” katanya menawarkan kepadaku seminggu yang lalu. Dan sekarang sepeda itu sudah saya gunakan untuk jalan-jalan keliling kampung hingga ke kota, untuk bersantai-santai ria mencari orang yang mau diajak ngobrol dan dijadikan sebuah tulisan. Uh, beruntung sekali saya!
Dari perempatan jalan raya Ciceri kami berbelok menuju jalan pasar Rau dengan harapan mobil angkot tidak serabat-serobot seenaknya saja di jalan, dan juga agar sedikit bisa menghargai pengendara sepeda seperti saya dan teman saya Gading. Ternyata tidak. Kami yang bersepeda di pinggir jalan, seolah tidak ada ruang untuk jalan. Mereka pengemudi dan mobil seenaknya saja melaju kencang. Ya, tentu saja itu sangat mengkhawatirkan kami yang menggunakan sepeda. Kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Walau hanya anginnya saja yang kadang sampai mengoyangkan sepeda Ontel kami, atau hampir ke senggol. Hal semacam itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus disanksi agar memperdulikan pengguna jalan yang lain.
Menginjak pukul 08.00, kami sampai di sebuah reruntuhan istana Kaibon, dan kami langsung berfoto-foto ria disana. Tak lupa juga kami mengambil foto-foto untuk ditampilkan di www.rumahdunia.com. Reruntuhan istana Kaibon ini, beralamat di jalan Karangantu, desa Kasemen, kota Serang. Letak istana Kaibon tak jauh dari masjid Agung Banten yang hanya berjarak sekitar 400 meter. Tapi, kami tak langsung menuju masjid Agung Banten, melainkan terus lurus ke arah pelabuhan Karangantu. Disana kami bertemu dengan para nelayan yang sedang mengangkut ikan-ikan hasil tangkap dan yang sedang hendak berlayar kembali juga ada. Saya lebih suka menyebut para nelayan itu pelaut.
Halaman: [ 1 ] 2  
|