|
02 Januari 2010 - 17:27 (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
PANGERAN SURYA DAN UNTIRTA
Baraya Post, 30 Desember 2009
Oleh Firman Venayaksa
Menggali masa lampau untuk membidik masa depan adalah ikhtiar akademik yang tak terbantahkan bagi kita, orang-orang yang rindu berbasah-basah menyelami lautan ilmu pengetahuan. Seperti halnya harimau, penting baginya mengambil ancang-ancang ke belakang untuk meloncat jauh menuju mangsa yang dituju. Begitulah sejarah; kehadirannya menjadi kian berguna ketika sejumput cita-cita melayang-layang di udara. Namun, sering kali para sejarawan mengingatkan kepada kita bahwa sejarah adalah lautan yang tak bertepi, tak berbatas. Kitalah yang harus menentukan tepi itu, menemukan batasnya.
Sebagai seorang mualaf sejarah kebantenan, saya memang tak terlampau mahfum untuk membincangkan nilai-nilai filosofis yang bisa kita baca dari kehadiran pangeran Surya atau yang lebih kita kenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten ini. Apalagi jika dikaitkan dengan persoalan pendidikan yang nantinya mungkin diejawantahkan dalam corporate culture Untirta. Setelah jargon menuju World Class University duhai, makhluk apa pula corporate culture itu?
Banten dalam Sastra Dunia
Sebelum menyoal Sultan Ageng Tirtayasa dan segala yang melingkupinya, saya akan mulai membincangkan Banten dalam perspektif sastra. Sastra saya jadikan sebagai alternatif untuk menukil Banten, karena di dalam pendekatan terbaru seperti pendekatan New Historicism misalnya, maka sastra memiliki kaitan intertekstual dengan sejarah. Hal ini diakui oleh sejarawan terkemuka, Asvi Warman Adam, yang dikutip dari pernyataan Louis A. Montrose dengan istilah: membaca sastra sama dengan membaca sejarah, membaca sejarah sama dengan membaca sastra. Hal ini dimungkinkan karena sastra selalu bicara tentang kehidupan sementara sejarah adalah bagian dari kehidupan itu sendiri.
Ditilik dari ranah sastra dunia, terutama di Belanda, Inggris dan Prancis, ternyata citra kesultanan Banten muncul semenjak 1610-1891. Hal ini bisa kita lihat dari tulisan Claude Guillot yang secara kronologis menjelaskan drama, novel maupun cerpen yang mengambil kutipan “Bantam” bahkan ada juga yang secara jelas menjadikan Banten sebagai setting dari cerita yang diinisiasi pengarangnya.
Pada tahun 1610, Ben Johnson, seorang kawan sekaligus seangkatan dengan Shakespeare, memunculkan kata “Bantam” di dalam dialog drama The Alcemist. Pada tahun 1683, Aprha Ben bahkan menuliskan judul cerpennya yaitu The Court of King of Bantam. Hal ini dimungkinkan karena setahun sebelumnya, para utusan Banten sempat bermukim di London dan membuat geger ibu kota Inggris. Hal yang paling menarik adalah munculnya sebuah karya yang ditulis Onno Zweir van Haren (1713-1779) berjudul Agon, Sultan van Bantam yang menceritakan perihal kemelut yang terjadi akibat peralihan kekuasaan dari Sultan Ageng atau Agung (Agon) kepada anaknya Abdul Kahar (Abdul, dalam drama itu) yang meminta bantuan Belanda untuk melanggengkan kekuasaannya melawan bapaknya sendiri. Penting untuk digarisbawahi, di dalam sandiwara lima babak ini, van Haren, justru memihak pada Banten, yang digambarkan sebagai negara yang patut dihormati sama seperti Belanda.
Halaman: [ 1 ] 2 3  
|