|
18 Januari 2010 - 12:08 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
MAKNA FILOSOFIS LOGO ANEKA SWALAYAN
Oleh Muhzen Den
Setiap benda yang memiliki nama maupun warna, ada suatu makna yang tersembunyi di balik proses penamaan dan pewarnaan, sehingga ada nilai jual atau nilai filosofis dari benda-benda tersebut. Seperti halnya nama kita [manusia], pastinya memiliki sejarah dan maksud tertentu mengapa orang tua memberi kita nama dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan penulisan ini, saya hanya ingin berbagi saja. Sebenarnya tulisan ini dikhususkan untuk memenuhi mata kuliah Semantik pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang saya geluti di kampus Untirta Serang-Banten. Namun, ketika melihat situasi yang melonggarkan waktu saya, maka saya berusaha untuk mempublikasikan tulisan ini.
Pada dasarnya tak ada niat untuk menulis atau meriset makna sebuah lambang atau logo perusahaan/instansi/lembaga. Gagasan ini tercetuskan oleh salah satu dosen mata kuliah Semantik yang menganjurkan mahasiswa untuk melakukan riset atau observasi lapangan sebagai tugas tambahan menjelang UAS (ujian akhir semester). Oleh karena itu, saya sebagai salah satu mahasiswanya mengikuti anjuran tersebut.
Baiklah, saya tidak mau bertele-tele dengan tulisan ini. Saya khawatir tulisan ini akan menjadi hambar jika berlama-lama dengan pengantar yang panjang dan lebar. Sehingga karena terus bertele-tele akan tidak sesuai pesan yang ingin saya sampaikan ke pembaca.
SEJARAH
Aneka Swalayan berdiri pada bulan Desember tahun 2000, yang dulunya bernama Aneka Plasindo dan pada 26 Juni 2005 berganti menjadi Aneka Swalayan. Hal itu dituturkan oleh pemimpin perusahaan, pak Latif Mashari, “Sengaja namanya diganti menjadi Aneka Swalayan dari Aneka Plasindo, karena untuk menarik minat pembeli dan supaya terdengar familiar di luar,” sambil sedikit tersenyum pak Latif menjelaskan kepada saya dihadapan pemilik perusahaan Aneka Swalayan, pak Yosep.
“Kalau dulu Aneka Plasindo itu terdengarnya tidak universal, karena kata Plasindo sendiri adalah plastik Indonesia. Jadi diganti menjadi Aneka Swalayan. Itu atas usul pak Latif loh,” Pak Yosep menambahkan penjelasan dari pak Latif tadi.
Sembilan tahun perusahaan yang fokus pada penyediaan bahan dan produk makanan ini berdiri, dan sudah tiga kali berganti manajer perusahaan atau pemimpin perusahaan. Pada awal-awal berdiri, Aneka Swalayan dipimpin oleh pak Yanto, kemudian diganti dengan pak Geri sampai dengan bulan Maret 2005. Baru setelah itu diganti oleh pak Latif Mashari dari tahun 2005 sampai sekarang.
Maka pada saat ditangai oleh pak Latif sebagai pemimpin perusahaan nama Aneka Plasindo menjadi Aneka Swalayan, sehingga penyediaan bahan dan produk makanannya pun kian banyak diperjual-belikan sampai memiliki pelanggan tetap dari seratus bahkan ribuan pelanggan.
HURUF ‘A’ GEMUK
Huruf ‘A’ gemuk yang terdapat pada logo Aneka Swalayan melambangkan sebuah kesuburan, makmur, harmonis dan sejahtera. Artinya huruf ‘A’ tersebut menunjukan sebuah hubungan yang saling menguntungkan dan mengisi antarkaryawan dengan pimpinan, dan karyawan dengan pelanggan.
Lalu pada ruas-ruas yang menusuk kedalam huruf ‘A’ tersebut membentuk sebuah lorong lalu mengait seperti kunci. Itu mengartikan bahwa setiap pembeli/konsumen yang datang ke Aneka Swalayan dan membeli akan terkunci dan menjadi pelanggan tetap di Aneka Swalayan.
Halaman: [ 1 ] 2  
|