07 Pebruari 2005 - 19:48 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
[Artefak#5] PERPUSTAKAAN POPULER
Oleh Ibnu Adam Aviciena
Sebuah kotak tembok dengan beberapa rak tertata. Buku-buku berderet, sebagian berserakan. Beberapa kursi melingkari meja. Satu dua orang duduk. Satu dua kali membuka bacaannya. Di atas tergantung papan bertuliskan “Jangan Berisik”. Sebuah ilustrasi perpustakaan kita!
Perpustakaan kebanyakan seperti yang diilustrasikan di atas sudah tidak lagi populer. Sudah bukan lagi jamannya. Saya menduga, perpustakan yang sekarang ada merupakan gambaran perpustakaan Eropa yang dibawa pelajar Indonesia dari Belanda. Bagaimana kita harus besikap di perpustakaan sama dengan bagaimana kita harus bersikap di ruang kelas. Paulo Frier seorang doktor Sejarah dan Filsafat di Universitas Receife melukiskan pendidikan abad ke-19 dengan: “Guru bercerita, murid mendengarkan; guru mendiktekan, murid mencatat; guru menentukan peraturan, murid diatur—yang kemudian dinamai oleh laki-laki Brazil kelahiran 1921 itu dengan “konsep gaya bank”.
Ilustrasi yang sama dikemukakan oleh Edrward T. hall dalam Beyond Culture dan Dave Meier dalam The Accelerated Learning, bahwa belajar di sekolah/perpustakan harus duduk manis, tidak boleh banyak bergerak, tidak boleh tertawa. Sebuah gaya belajar yang di Amerika disebut gaya belajar kaum puritan—puritanisme! Sebuah gaya belajar kuno!
Gaya belajar kita sudah ketinggalan jaman karena masih menganggap manusia—pembelajar, istilah Andreas Harefa—sebagai makhluk mekanik. Pandangan ini merupakan dampak filsafat Descartes, Isaac Newton dan teman-temannya yang kemudian hari menjadi landasan psikologi behaviorisme.
Perpustakaan Populer?
Sebelum mendiskusikan konsep perpustakaan populer, saya ingin membicarakan metode accelerated learning dan bukti-bukti keampuhannya. Karena dari prinsip-prinsip accelerated learning ini pula, perpustakaan populer kita bicarakan.
Accelerated learning adalah cara belajar yang alamiah, akarnya telah tertanam sejak jaman kuno; begitu Dave Meier mengawali bab pertama buku The Accelerated Learning Handbook. Accelerated learning dikembangkan setelah Lynn Schroeder dan Sheila Ostrader dengan mengemukakan karya psikiater Bulgaria, Georgi Lozanov dalam buku Superlearninng pada 1970-an. Belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh; belajar adalah berkreasi, bukan mengonsumsi; kerjasama membantu proses belajar; pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan; belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri; emosi positif sangat membantu pembelajaran dan otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis, merupakan prinsip-prinsip pokok accelerated learning.
Karena memperhatikan sisi-sisi manusiawi, metode ini sudah berkembang pesat dengan hasil menakjubkan. Akan dikemukakan contoh yang diganakan Dave Meier. Kemudian di akhir tulisan akan ditunjukan bagaimana Pustakaloka Rumah Dunia berhasil karena menerapkan prinsip-prinsip yang sama.
“Perancang AGFA, Lynn Brown dan Jerry DelVecchio, memperbarui kursus membangun tim yang ada dengan versi accelerated learning yang mereka rancang hanya dalam waktu satu jam. Mereka menghemat waktu kursus dari 8,5 menjadi 6 jam, dan meningkatkan pembelajaran. Program yang baru, kata mereka, semuanya didasrkan pada aktivitas dan mengajak peserta terlibat penuh, yang membuatnya sukses besar.”
Prinsipnya, belajar adalah berkreasi, bukan mengumpulkan informasi!
Bercermin kepada prinsip-prinsip di atas, perpustakaan di kita seperti apa? Kotak tembok satu warna, rak-rak buku berdebu, sepi dengan larangan berisik. Ilustrasi yang pantas jika pengunjungnya tidak banyak.
Halaman: [ 1 ] 2  
|