25 Pebruari 2005 - 19:54 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
[Artefak#7] LEBIH DARI SELUSIN GADIS PERNAH MENGATAKAN CINTA PADANYA!
Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Dua pelajar SD, laki-laki perempuan, mengejar-ngejar kakak kelasnya yang mengatakan bahwa keduanya saling mencintai. Keduanya kesal dan malu dibilangin begitu. Apa yang terjadi? Justeru dengan mengejar bersama-sama itu menjadi alasan berikutnya bagi si kakak kelas untuk “mengolok-olokEbahwa memang keduanya saling mencintai. Atau bahasakan saja dengan: pacaran.
Tahu tidak, pelajar laki-laki dan perempuan SD yang dicandain kakak kelasnya saat itu baru kelas dua! Teman sekelas dan teman sekampung. Yang perempuan anak guru SD itu, sedangkan yang laki-laki anak petani. Di kelas keduanya pasti dikenal. Tidak saja oleh pelajar SD itu, melainkan juga oleh guru-gurunya. Soalnya yang perempuan selalu rangking satu, yang laki-laki selalu rangking dua. Jika yang perempuan ulang tahun, yang laki-laki diundang orangtuanya untuk menghadiri acara ulang tahun putrinya itu. Dengan malu-malu ia menyanyikan lagu untuk teman kelas yang rangkingnya satu level lebih tinggi darinya.
Ejekan kakak kelas tidak saja terjadi tahun itu. Tetapi terus hingga dirinya kelas lima. Pada saat kelas lima itulah, sebagai teman satu kelas, yang laki-laki dan perempuan lebih dekat. Karena kemampuan lebihnya di kelas, aktif di pramuka dan permainan.
Pada jam istirahat sekolah, selain ada yang pergi ke perpustakaan, pergi ke kebun, main sepakbola, volli, dan lain-lain, bermain karet merupakan salah satu yang disenangi anak-anak. Permainan karet gelang tersebut hampir selalu dimenangkan remaja itu. Jadi ia tidak saja cerdas di kelas, tetapi juga di luar. Sebagian karet hasil permainan diserahkan kepada temannya yang satu itu. Ia juga heran, kok ingin sekali ia mengasihinya. Kok kalau “dijodohkanEia suka degdegan.
Jalan pulang dari sekolah itu ada dua. Jalan gede , jalan yang biasa dilalui kendaraan, dan jalan leweung , yaitu jalan setapak. Pernah suatu saat ia pulang sendirian. Tidak biasanya ia bernyanyi-nyai riang sambil loncat-loncat. Dari sekolah hingga rumahnya entah beberapa kali ia berhenti di jalan. Yang dikerjakannya ialah menuliskan namanya dan nama perempuan yang “dijodohkanEpadanya pada daun-daun di pinggir jalan. Karena takut ketahuan, daun itu segera diambil, dirusak dan dibuangnya. Tapi, namanya dan nama perempuan itu segera dibuat di daun yang berbeda. Karena takut ketahuan, daun berikutnyapun dibuang.
Saya lupa saat kelas berapa orangtua yang perempuan pindah rumah ke lain kampung. Mungkin saat kelas lima itu. Sehingga sejak saat itu mereka hampir tidak pernah bertemu lagi, kecuali di sekolah. Pun dijodoh-jodohkan oleh teman-temannya, tak pernah satu kata cintapun terucap.
Kelas enam tahun itu, SD mereka kedatangan pelajar baru dari Bandung. Badannya sangat tinggi, orangnya komikatif, dan pemberani. Gadis itulah yang membuatnya malu di depan teman laki-lakinya karena mengajak makan bareng. Untuk soal bayaran, katanya, ia yang neraktir. Entah berapa lama setelah itu, entah kebetulan atau tidak, ketika yang laki-laki duduk sendiran di kelas, anak Bandung itu datang berdua dengan teman perempuannya. Anak pindahan itu bilang, bahwa dirinya mencintai pelajar laki-laki ini. Yang membuatnya lebih heran, teman yang mengantar mengatakan hal yang sama. Bahwa dirinya juga mencintai.
Halaman: [ 1 ] 2 3 4  
|