About  |  Activity  |  Home  |  Volunteer  |  Populer  | 
 
 

     Senin, 06 September 2010     
 R U B R I K
Agenda
Brankas
Catatan Perjalanan
English Version
Gerbang
Jurnal
Kelas Menulis
Kliping
Lintas Komunitas
Ode Kampung
Parade Karya
Pustakaloka
Rintisan Balai Belajar Bersama
TBM@Mall Banten Membaca
Tips
Warta Relawan
 Gerbang
PANEN RAYA [LAGI] DI RUMAH DUNIA
[Dari Taman Budaya Rumah Dunia hingga Riwayat Block Grant]
Oleh Gol A Gong Ketika Rumah Dunia menggelinding terus bagai bola salju, pada 2008 – 2009, saya mencoba peruntungan dengan menggalang dana di akun facebook saya; Gol A Gong. Ada tanah hampir seluas 1000 m2 di depan Rumah Dunia...
01 September 2010 - 03:38
Arsip... 
 Warta Relawan
DARI PEDAGANG GORENGAN, JADI RELAWAN RUMAH DUNIA, WARTAWAN SEKALIGUS LOPER KORAN BANTEN RAYA POST, K
Oleh Harir Baldan
“Alhamdulillah...” itulah kata syukur yang terucap dari mulut saya usai menggelar rapat evaluasi Pesta Anak Rumah Dunia, Minggu (25/7) lalu. Ucapan rasa syukur dan terima kasih itu saya haturkan kepada para donatur Rumah Dunia yang sudah membantu berlangsungnya kegiatan di...
08 Agustus 2010 - 00:40
Arsip... 
 Balada Si Roy

06 Mei 2005 - 09:38   (Diposting oleh: Rumah Dunia)
[Di balik Layar 10] SUM-SUM BALADA SI ROY DAN AZETA    
Oleh Gola Gong

Ada peristiwa unik yang berkaitan dengan novel serialku ini; Ballada Si Roy. Di Serang, banyak hal terjadi. Ternyata tidak semua orang tahu kalau “Gola Gong” itu adalah saya alias Heri Hendrayana Harris, yang kalau di Serang lebih dikenal sebagai jagoan badminton berlengan satu.

Pernah sebuah peristiwa unik terjadi. Di episode “Tomboy Surprise”, Roy mengajak teman kencannya; Ongky, makan nasi sum-sum di pasar Lama, Serang. Nasi sum-sum adalah makanan khas Serang. Dalam kenyataannya, saya memang sering makan di sana. Nama pemilik warung tenda sum-sum milik Pak Sururi.

Malam itu, saat saya makan nasi sum-sum bersama teman-teman dari gank Ulah Jazz dan Cipta Muda Banten (organisasi kepemudaan di Serang), kami ngalor ngidul ngomongin soal BSR. Bahkan menyinggung warung tenda nasi sum-sum ini. Tanpa saya sadari, pemilik nasi sum-sum ini menyimak setiap kalimat yang terlontar dari mulut kami. Akhirnya, dia menyetop obrolan kami. “Dari dulu saya sudah berjanji, jika bertemu dengan pengarang Balada Si Roy, yang bernama Gola Gong, saya akan membebaskan Gola Gong makan nasi sumsum selama sebulan. Dan malam ini, saya nggak nyangka kalau Gola Gong itu adalah Heri, yang jago badminton itu, yang sudah jadi langganan saya.”

Memang, hampir setiap week end saya makan nasi sum-sum di sini dan saya tidak pernah menceritakan profesi saya sesungguhnya. Untuk apa? Lebih baik saya banyak mendengar dari dia, karena itu bisa jadi sumber inspirasi saya. Pada malam itu pun, bukan saya yang memulai pembicaraan tentang Roy yang diceritakan makan nasi sum-sum di sini. Tapi, teman-teman saya. Akhirnya, setelah kejadian itu, saya mengurangi daftar kunjungan saya ke nasi sumsum. Kasihan juga kalau saya sering datang. Ada sekitar dua kesempatan saya datang ke sana. Dan dia betul-betul menepati janjinya, gratis! Setelah masa sebulan terlewati, saya rajin datang lagi dan membayar seperti biasa.

Belakangan saya baru tahu, bahwa banyak para pembaca Balada Si Roy, yang datang ke Serang selain ingin melihat latar tempat (setting) yang saa pakai, juga ingin mencicipi nasi sum-sum, yang juga dimakan tokoh "Roy" yang saya ciptakan.

Hal unik lainnya. Ini yang paling berkesan. Setelah Balada Si Roy melewati 13 episode dan mendapat respon yang cukup bagus dari pembaca, saya secara tidak sengaja bertemu dengan teman lama saya; Rys Revolta dan Toto ST Radik. Rys Revolta adalah teman pertama saya yang mengajak ke majalah HAI pada tahun 1981. Saat itu saya, Rys Revolta, dan Iman Nur Rosady, membolos dari SMAN 1 Serang hanya untuk menantarkan puisi dan laporan jurnalistik ke majalah HAI. Sedangkan Toto adalah pelaku seni di sekolah. Saya sering menyebutnya dalam hati sebagai “WS Rendra” atau “Putu Wijaya” kota Serang. Saya sering menonton dia membaca puisi di panggung-panggung kesenian sekolah. Kami satu sekolah di SMAN 1 Serang. Tapi Rys dan Toto setingkat di bawah saya.

Malam itu mereka sedang nongkrong di Royal – latar tempat yang juga saya pakai sebagai tempat nongkrong tokoh “Roy”. Pada era 80 dan 90-an, tempat nongkrong strategis bagi anak muda di Serang, ya di Royal. Bagi kami, Royal memang tempat diskusi yang nyaman, seperti halnya seniman Yogya di jalanan Malioboro. Saya sering menghabiskan waktu sampai dini hari di sini, ngobrol dengan siapa saja. Pada awal-awal malam, biasanya teman mengobrol saya adalah para crossboy. Sesekali ada juga crossgirl. Agak malam dengan para jungkies. Larut malamnya dengan para preman. Dini hari, begadang dengan para abang becak. Banyak hal yang saya peroleh dari “sekolah” jalanan ini. Itu memperkaya batin saya dan makin memperkuat keyakinan, bahwa hidup menjadi berguna jauh lebih penting.

Pada malam itu Toto dan Rys sedang membicarakan tentang siapa “Gola Gong” dan “Balada Si Roy”. Teman-teman seniman di kota lain menuduh Toto-lah Gola Gong itu. Saya mendengarkan saja dulu. Setelah itu. Saya tanyakan kepada mereka, apakah masih menulis sajak?

“Saya butuh banyak sajak untuk pembuka di setiap episode ‘Balada Si Roy”!” kata saya. Dan mereka sangat kaget sekaligus senang. Pada malam itu juga, diskusi berpindah ke kamar saya di Komplek P&K, Palem 47, Serang 42118. Sampai larut kami diskusi. Rys dan Toto berjanji akan membantu saya menyediakan banyak puisi dan memberi masukan tntang episode-episode Balada Si Roy selanjutnya. Bahkan kami sepakat membentuk komunitas “AzetA”. Target pertama, membikin antoloji puisi “Jejak Tiga”.

Setelah mereka pulang, saya rebah di kasur, menatap langit-langit kamar. Obsesi saya mencerdaskan anak mudfa Banten lewat jurnalistik, sastra, dan teater ternyata sama dengan Rys dan Toto. Saat itu saya makin bersemangat dan merasa tidak sendirian.

 

 Kirim ke teman Versi cetak Beri nilai Komentar (View: 1758 | Refer: 0 | Print: 136 | Rate: 7.00 / 1 votes | Comment: 3)

Selanjutnya:
[Di balik Layar 14] JOE: RUH BALADA SI ROY – 14 Juli 2006 - 00:36
[Di balik Layar 13] ROY REMAJA KAMPUNG – 25 Januari 2006 - 21:48
[Esaay 7] DI ANTARA ROY DAN SAIJAH, DIMANAKAH REMAJA? – 19 Desember 2005 - 17:15
[Di balik Layar 12] DEWI VENUS ITU... – 12 November 2005 - 02:18
[Di balik Layar 11] GANK RAT DI BALADA SI ROY – 03 Agustus 2005 - 20:09

Sebelumnya:
[Di balik Layar 9] BALADA SI ROY GENERASI JAGUAR! – 15 Maret 2005 - 06:18
[Di balik Layar 8] BALADA SI ROY LAYAK DITERBITKAN JADI NOVEL – 22 Pebruari 2005 - 10:58
[Di balik Layar 7] PENGARANG BERLENGAN SATU – 15 Pebruari 2005 - 19:57
[Di balik Layar 6] TIGA KALI TIGA METER – 03 Pebruari 2005 - 20:47
[Essay Roy 6] ROY, DUNIA BARU, DAN PETUALANGAN – 01 Pebruari 2005 - 17:08

Supported by Intervisi

didukung oleh RumahSehat.com
 Artikel Terbaru
Agenda:
MINGGU INI, ADA KADO LEBARAN DI TAMAN BUDAYA RUMAH DUNIA
Agenda
Brankas:
RUMAH DUNIA MELUNCURKAN RINTISAN BALAI BELAJAR BERSAMA 2010
Brankas
Catatan Perjalanan:
RELAWAN RUMAH DUNIA MANCING DI GANDARIA
Catatan Perjalanan
English Version:
THE SECRET MILLIONAIRE
English Version
Gerbang:
PANEN RAYA [LAGI] DI RUMAH DUNIA
Gerbang
Jurnal:
KADO LEBARAN RUMAH DUNIA PESTA UNTUK ANAK
Jurnal
Kelas Menulis:
KELAS MENULIS RUMAH DUNIA ANGKATAN KE-16 DIBUKA
Kelas Menulis
Kliping:
MASYARAKAT YANG KACAU
Kliping
Lintas Komunitas:
FAHMIL QUR’AN: SAMBUT RAMADHAN DENGAN IKHTIFALAN
Lintas Komunitas
Ode Kampung:
ODE KAMPUNG #4: BANTEN ART FESTIVAL DI TAMAN BUDAYA RUMAH DUNIA
Ode Kampung
Parade Karya:
[KATA PENGANTAR BUKU ‘GERIMIS JANUARI’] MULTATULI: YA, AK U BAKAL DIBACA!
Parade Karya
Pustakaloka:
KIAT MENULIS RESENSI BAGI PEMULA
Pustakaloka
Rintisan Balai Belajar Bersama:
MENULIS RESENSI BUKU DI NaRD
Rintisan Balai Belajar Bersama
TBM@Mall Banten Membaca:
NGABUBURIT DI TBM@MALL CARREFOUR
TBM@Mall Banten Membaca
Tips:
CARA MENGUATKAN KARAKTER DI NOVEL SERIAL
Tips
Warta Relawan:
DARI PEDAGANG GORENGAN, JADI RELAWAN RUMAH DUNIA, WARTAWAN SEKALIGUS LOPER KORAN BANTEN RAYA POST, K
Warta Relawan

© RumahDunia.Net website RumahDunia.net sejak 24 Desember 2004