11 Mei 2005 - 07:23 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
[Artefak#9] GADIS PEMBAWA ALKITAB: APAKAH KITA MASIH MANUSIA?
Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Rabu, 27 April 2005. Ciloang pagi itu seperti pagi-pagi sebelumnya. Matahari bersinar di timur. Cahayanya menerobos daun bambu yang memagari perbatasan bagian timur Rumah Dunia. Saya, Oji, dan Wangsa sedang membaca buku. Itu kebiasan kami: duduk-duduk istirahat, mau tidur, dan bangun tidur selalu membaca. Kalau tidak begitu mau bagaimana lagi. Sebab di sisi kiri kanan semuanya buku.
Tidak lama kemudian Gola Gong datang. Dia bilang bahwa ngekosnya di Jakarta mau disudahi. Dia, katanya, harus banyak mencurahkan perhatiannya kepada anak keempatnya. Dan memang saya sering mendengar keluhannya, sejak beberapa bulan lalu, bahwa tinggal di Jakarta tidak menyenangkan.
Kedatangan Gola Gong saat itu ternyata meminta kami ikut ke Jakarta untuk mengangkuti barang-barang di kosan untuk dibawa ke Serang. Terang saja saya ingin membantu; tapi bagaimana dengan deadline berita saya hari itu?
Sekitar satu jam kemudian saya ditelepon untuk datang ke kantor. Saya sampaikan, saya tidak bisa, karena memang saat itu saya ada di mobil, di jalan tol menuju Kebon Jeruk saya memutuskan ikut Gola Gong ke Jakarta.
Sampai di kosan, Gola Gong pergi ke RCTI, kami bertiga di kosan. Tidak lama saya ditelepon. Pemanggil mengatakan bahwa dirinya dari Penerbit Beranda. Katanya tanggal 1 Mei saya harus ke Gramedia Depok. Novel saya Mana Bidadari Untukku dan novel Melvi Yendra Lonely Joe akan diobrolkan, yang kemudian pada spanduk saya baca teks "talkshow"
Panggilan itu saya jawab, saya akan usahakan. Dan langsung saya hubungi keponakan saya yang kuliah di Jakarta: tanggal 1 Mei saya ingin diantar ke Gramedia Depok. Syukur, dia menyanggupi.
Jakarta yang Tak Pernah Saya Rindukan
Kenapa saya menghubungi keponakan saya, karena saya tidak hafal daerah Jakarta. Pagi tanggal satu Mei sekitar pukul 8 saya berangkat dari Serang menuju Terminal Rambutan, setelah sebelumnya menghubungi keponakan bahwa saya menuju ke sana.
Dari terminal Rambutan saya menuju terminal Blok M atas saran keponakan saya itu. Padahal dari Rambutan ada kendaraan yang langsung ke Depok. Karena sudah menyanggupi jalur sarannya, saya tidak berani langsung.
Di pintu keluar jalur lima Blok M saya menunggu. Dahi orang-orang saya lihat berkeringat. Tatapan mereka menunjukan bahwa mereka tidak saling mengenal. Saya tahu sifat warga kota demikian, tapi tetap saja saya tercenung. Bukan apa, karena pada saat yang sama pikiran saya menampilkan gambaran kehidupan di kampung. Di kampung saya seorang warga bisa tahu seluruh tetangganya, bahkan hingga nenek moyang dan cucu cicitnya.
Saya juga memikirkan handphone yang tadi pagi saya charge. Dengan benda kecil itu saya tahu di mana posisi keponakan saya. Terbayang juga bagaimana bila saya janjian dengannya, sementara saya dan dia sama-sama tidak bawa handphone. Bisa-bisa tidak pernah bertemu.
Akhirnya saya tahu kenapa dia menyuruh saya dari Rambutan harus ke Blok M dulu. Karena dia janjian juga dengan temannya untuk bertemu di sana, dan sama-sama pergi ke Gramedia Depok.
Gadis Pembawa Alkitab
Pukul 11 saya dan dua orang yang mengantar saya tiba di tujuan. Langsung dipastikan di mana nanti acaranya. Di lantai dua, di toko buku Gramedia, ada spanduk yang menginformasikan bahwa di sana, beberapa jam kedepan, akan ada acara. Karena tiga jam lagi talkshow baru dimulai, saya keluar untuk makan-makan.
Halaman: [ 1 ] 2  
|