About  |  Activity  |  Home  |  Volunteer  |  Populer  | 
 
 

     Selasa, 09 Pebruari 2010     
 R U B R I K
Agenda
Brankas
Catatan Perjalanan
English Version
Gerbang
Jurnal
Kelas Menulis
Kliping
Lintas Komunitas
Parade Karya
Pustakaloka
Tips
Warta Relawan
 Gerbang
MAKNA FILOSOFIS LOGO ANEKA SWALAYAN
Oleh Muhzen Den
Setiap benda yang memiliki nama maupun warna, ada suatu makna yang tersembunyi di balik proses penamaan dan pewarnaan, sehingga ada nilai jual atau nilai filosofis dari benda-benda tersebut. Seperti halnya nama kita [manusia], pastinya memiliki sejarah dan maksud tertentu...
18 Januari 2010 - 12:08
Arsip... 
 Warta Relawan
BERMIMPILAH WALAUPUN KEADAAN TIDAK MENDUKUNG!
Oleh Lanang Sejagat
Khusnul Aeni atau lebih akrab dipanggil Baby oleh sesama temannya ini ternyata punya cita-cita ingin menjadi seorang desainer busana. Ia anak ke-tujuh dari tujuh bersaudara pasangan Asman dan Madiha. Keinginan untuk menjadi seorang desainer ternama itu berawal dari...
10 Januari 2010 - 14:30
Arsip... 
 Catatan Perjalanan

25 Mei 2005 - 13:26   (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
REPORTASE DARI PERKAMPUNGAN BADUY: AKU BERDIAM DIRI DALAM DIAM
Oleh Firman Venayaksa*) Fotografer: Eva Shifa

Sekitar 172 km sebelah barat Jakarta, terdapat sebuah desa bernama Kanekes, sebuah komunal yang biasa disebut suku Baduy. Dari rumahku (Warunggunung, kab. Lebak) hanya sekitar 48 km saja. Ketika berumur 17 tahun aku pernah bertandang ke tempat ini untuk pertama kalinya, sebuah tempat yang menjadi saksi peralihan antara masa kecilku menuju masa remaja yang mulai belajar mempersoalkan eksistensi hidup dari pelbagai keresahan dan pergumulan pertanyaan yang terus mengalir deras. Ketika itu aku masih SMA, pergi bersama teman satu genk. Aku dan teman-temanku terus bercanda dalam setiap jejak menuju Baduy; tapi tidak kali ini. Pada tanggal 21 Mei 2005 aku menjenguk kembali suku Baduy, berusaha mengunci pintu bibirku rapat-rapat. Aku memakai seluruh inderaku untuk benar-benar menikmati tempat ini. Sesekali aku tak kuasa membendung air mataku yang acap kali mengalir dan aku tak tahu alasan apa yang membuatnya demikian. Mungkin rasa sedih, mungkin juga bahagia. Entah.

Suku Baduy adalah sebuah masyarakat yang memiliki kekhasan dalam pelbagai hal, sangat tradisional dan memegang teguh prinsip-prinsip yang diimaninya. Karena kekhasan tersebut, mereka seperti memiiliki dunia sendiri dengan pondasi peradaban yang kokoh. Suku Baduy dibagi menjadi dua bagian yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Pembagian ini bukan untuk menghancurkan satu sama lain, justru sebaliknya, saling melengkapi dan menunjukkan kepada dunia luar betapa indahnya perbedaan dalam persatuan.

Perjalanan ini dimulai ketika aku berkenalan dengan seseorang di friendster.com, namanya Eva Syifa. Dia seorang fotografer yang sering berkeliling ke tempat-tempat eksotis, dan mengabadikan dengan kameranya. Ketika dia tahu rumahku tak jauh dari Baduy, dia langsung mengajakku untuk mengunjungi tempat yang sudah lama dikenalnya namun belum sempat dikunjunginya itu. Aku pun tak kuasa menolaknya, lagi pula ada maksud lain yang ada dalam benakku. Aku sedang menulis sebuah novel yang di dalamnya terdapat tokoh orang Baduy dan settingnya pun di Baduy. Agar novelku mempunyai ruh, sudah sewajarnya aku mendatangi kembali tempat ini.

Eva Syifa mengajak 5 temannya yang kesemuanya perempuan (Yuli, Eva, Eppie, Okke, Yayah,), sementara aku mengajak 3 temanku (Dadan, ‘Ncu dan Suhada) yang sangat mengetahui seluk beluk dan sejarah kehidupan suku Baduy, bahkan Suhada sempat meluncurkan sebuah buku tentang Baduy berjudul “Masyarakat Baduy dalam Rentang Sejarah.” Setelah semalam Eva dan teman-temannya tidur di rumahku, pada pukul 08.00 kami berangkat menuju Ciboleger-Leuwidamar, sebuah kampung perbatasan dengan desa Kanekes-Baduy. Di sana kami dikenalkan kepada Sarip, seorang penduduk Baduy Luar yang akan menjadi guide. Kemudian kami meminta izin untuk memasuki Baduy Dalam kepada Jaro Dainah (Kepala Desa Kanekes yang mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden) yang berada di Baduy luar.

Pukul 10.00 kami memulai perjalanan menuju Baduy Dalam.

Halaman:  [ 1 ]  2  3  4  

 Kirim ke teman Versi cetak Beri nilai Komentar (View: 8653 | Refer: 2 | Print: 787 | Rate: 0.00 / 0 votes | Comment: 0)

Selanjutnya:
[ARTEFAK#14] NAIK KERETA PALING LAMA – 19 Desember 2005 - 16:43
[Artefak #13] PERTAMAKALI NAIK KAPAL – 30 November 2005 - 04:14
[Artefak#12] PEJALAN – 12 November 2005 - 08:56
[Artefak#11] KULIAH JARAK JAUH DI BANTEN, DIBUTUHKAN TETAPI... – 25 Oktober 2005 - 00:43
[Artefak#10] APA YANG SEBETULNYA KUCARI? (Baduy, Karl Marx, dan Al-Ghazali) – 04 Agustus 2005 - 06:32

Sebelumnya:
[Artefak#9] GADIS PEMBAWA ALKITAB: APAKAH KITA MASIH MANUSIA? – 11 Mei 2005 - 07:23
[Artefak#8] NGGAK JOMBLO DAN TETAP KREATIF – 15 Maret 2005 - 03:23
[Artefak#7] LEBIH DARI SELUSIN GADIS PERNAH MENGATAKAN CINTA PADANYA! – 25 Pebruari 2005 - 19:54
[Artefak#6] BELAJAR SASTRA LEWAT VCD, WHY NOT? – 09 Pebruari 2005 - 19:41
[Artefak#5] PERPUSTAKAAN POPULER – 07 Pebruari 2005 - 19:48

Supported by Intervisi

didukung oleh RumahSehat.com
 Artikel Terbaru
Agenda:
LOMBA TULIS DAN BACA PUISI WONG CILIK #3
Agenda
Brankas:
PAKET KREATIF RUMAH DUNIA SEHARGA RP. 100.000,-
Brankas
Catatan Perjalanan:
MENYUSURI SITUS BANTEN DENGAN SEPEDA ONTEL
Catatan Perjalanan
English Version:
THE SECRET MILLIONAIRE
English Version
Gerbang:
MAKNA FILOSOFIS LOGO ANEKA SWALAYAN
Gerbang
Jurnal:
KMRD KE-15 PRAKTIK WAWANCARA DI ALUN-ALUN SERANG
Jurnal
Kelas Menulis:
BELAJAR DI RUMAH DUNIA MENYENANGKAN
Kelas Menulis
Kliping:
PANGERAN SURYA DAN UNTIRTA
Kliping
Lintas Komunitas:
ADANYA IKMC, ADANYA SEMANGAT PERUBAHAN
Lintas Komunitas
Parade Karya:
PARADE SAJAK KELAS MENULIS RUMAH DUNIA ANGKATAN KE-15
Parade Karya
Pustakaloka:
Lebak 181 Tahun Berkaca Pada Sejarah Untuk Membangun Daerah
Pustakaloka
Tips:
TIPS MEMILIH BAHAN BACAAN YANG TEPAT
Tips
Warta Relawan:
BERMIMPILAH WALAUPUN KEADAAN TIDAK MENDUKUNG!
Warta Relawan

© RumahDunia.Net Hari ini 284 pengunjung. Total 508.379 pengunjung sejak 24 Desember 2004