25 Mei 2005 - 13:26 (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
REPORTASE DARI PERKAMPUNGAN BADUY: AKU BERDIAM DIRI DALAM DIAM
Oleh Firman Venayaksa*) Fotografer: Eva Shifa
Sekitar 172 km sebelah barat Jakarta, terdapat sebuah desa bernama Kanekes, sebuah komunal yang biasa disebut suku Baduy. Dari rumahku (Warunggunung, kab. Lebak) hanya sekitar 48 km saja. Ketika berumur 17 tahun aku pernah bertandang ke tempat ini untuk pertama kalinya, sebuah tempat yang menjadi saksi peralihan antara masa kecilku menuju masa remaja yang mulai belajar mempersoalkan eksistensi hidup dari pelbagai keresahan dan pergumulan pertanyaan yang terus mengalir deras. Ketika itu aku masih SMA, pergi bersama teman satu genk. Aku dan teman-temanku terus bercanda dalam setiap jejak menuju Baduy; tapi tidak kali ini. Pada tanggal 21 Mei 2005 aku menjenguk kembali suku Baduy, berusaha mengunci pintu bibirku rapat-rapat. Aku memakai seluruh inderaku untuk benar-benar menikmati tempat ini. Sesekali aku tak kuasa membendung air mataku yang acap kali mengalir dan aku tak tahu alasan apa yang membuatnya demikian. Mungkin rasa sedih, mungkin juga bahagia. Entah.
Suku Baduy adalah sebuah masyarakat yang memiliki kekhasan dalam pelbagai hal, sangat tradisional dan memegang teguh prinsip-prinsip yang diimaninya. Karena kekhasan tersebut, mereka seperti memiiliki dunia sendiri dengan pondasi peradaban yang kokoh. Suku Baduy dibagi menjadi dua bagian yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Pembagian ini bukan untuk menghancurkan satu sama lain, justru sebaliknya, saling melengkapi dan menunjukkan kepada dunia luar betapa indahnya perbedaan dalam persatuan.
Perjalanan ini dimulai ketika aku berkenalan dengan seseorang di friendster.com, namanya Eva Syifa. Dia seorang fotografer yang sering berkeliling ke tempat-tempat eksotis, dan mengabadikan dengan kameranya. Ketika dia tahu rumahku tak jauh dari Baduy, dia langsung mengajakku untuk mengunjungi tempat yang sudah lama dikenalnya namun belum sempat dikunjunginya itu. Aku pun tak kuasa menolaknya, lagi pula ada maksud lain yang ada dalam benakku. Aku sedang menulis sebuah novel yang di dalamnya terdapat tokoh orang Baduy dan settingnya pun di Baduy. Agar novelku mempunyai ruh, sudah sewajarnya aku mendatangi kembali tempat ini.
Eva Syifa mengajak 5 temannya yang kesemuanya perempuan (Yuli, Eva, Eppie, Okke, Yayah,), sementara aku mengajak 3 temanku (Dadan, ‘Ncu dan Suhada) yang sangat mengetahui seluk beluk dan sejarah kehidupan suku Baduy, bahkan Suhada sempat meluncurkan sebuah buku tentang Baduy berjudul “Masyarakat Baduy dalam Rentang Sejarah.” Setelah semalam Eva dan teman-temannya tidur di rumahku, pada pukul 08.00 kami berangkat menuju Ciboleger-Leuwidamar, sebuah kampung perbatasan dengan desa Kanekes-Baduy. Di sana kami dikenalkan kepada Sarip, seorang penduduk Baduy Luar yang akan menjadi guide. Kemudian kami meminta izin untuk memasuki Baduy Dalam kepada Jaro Dainah (Kepala Desa Kanekes yang mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden) yang berada di Baduy luar.
Pukul 10.00 kami memulai perjalanan menuju Baduy Dalam.
Halaman: [ 1 ] 2 3 4  
|