22 Agustus 2005 - 18:42 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
LIMA SAJAK IBNU PS MEGANANDA    
Sajak Ini akan disertakan di Proyek 3/3 Penyair Banten di depan forum
1.
JIWA DAN RAGA
Jika tuan dengar aku cerita
aku anak tanah deli pengembara lata
di hutan, dipadang manapun aku bersyair
berlari mencari diri dengan berzikir
Bersabar diri menanti pijar dalam tempo
mengambari langit bagai maestro
harap itu harap terwujud
kurangkul dunia ku ajak bersujud
Mendera mendidih rasa pedih
walau tubuh dibanjiri peluh
disana jiwa dan raga sumpah setia
bertahan pada cita mulia
Sedikit tuan aku harap jangan mencela
apa bila kenyataan jauh berbeda
sekarang kita wajib berjuang dahulu
menang dan kalah Dia yang maha penentu
***
2.
SEHARUSNYA AKU PERGI
Seharusnya aku pergi
mencari nasip yang sudah lama terpendam
kabarnya ada di pulau jawa yang tiada
pernah sepi pergolakan
aku putramu yang tak ingin lahir hanya
pandai cuci tangan dan kaki
biarkan seumpama pandai besi;
jiwa yang aku maui penuh api
membakar keraguan yang selalu
menghalangi langkah ini
seharusnya aku pergi
mencari nasip yang sudah lama terpendam
agar aku dapat melunasi perjalanan
pengembaraan di dunia ini
kerena hidup bukanlah sekedar menghadiri
bukanlah sekedar ilustrasi tertera di dinding
tapi bagai lukisan bernilai seni tiada tanding
***
3.
LEGENDA KUDUNGGA
Kudungga raja kutai
pangkal silsilah rajaraja
Kudungga sang maharaja mulia
di muara kawan
kabupaten kutai asal mula legenda
Kudungga sang maharaja mulia
berputra aswawarman,
bercucu mulawarman
semua raja ternama
Kudungga prasasti yupa cerita
aswawarman sedekah 20 ribu ekor sapi
pada para brahmana
ditempat suci waprakeswara
Kudungga kala memuja
membakar dupa, sarana doa
Kudungga kekasih dewadewa
kaya mantra
melindungi negri dan rakyat semata
Kudungga raja kutai
bernegri rimba
bernegri bahtera
dipuja rakyatnya
***
4.
KEMBARA
Agar aku menaklukkan malam
lesehan di malyoboro
dan seharian heran
melihat warga patuh bersepeda
rasa iri timbul
pada hati yang selalu angkuh
disana ada yang hidup susah
kelihatan berlapang dada
hingga aku pergi ke parangtritis
mencari jejak si burung merak
dahulu katanya membangun
“perkemahan kaum urakan”
namun yang kutemui sapaan
bunga liar dipinggir jalan
ia mengaku saksi wafatnya
udin bernas
terasa panas udara
makam udin terbujur
doa menyelimuti jiwa kembara
jogja, oh jogja, aku ingin berbagi cerita
dengan para sultanmu
***
5.
SURAT PEMULUNG
mestinya kami bangga engkau dilantik
bukti keberhasilanmu bekerja
asal jangan cacat pada karir itu
kami tidak berkata apa-apa
kami hanya merenungi bbm
dan harga kebutuhan terus melangit
apa bila bahan makan sampai tidak
terdapat di dapur kami
mungkinkah senyummu masih
menghiasi mata kami
mestinya kami bangga engkau dilantik
tapi hati kicil ini memaksa lain
karena sejuta tanya masih belum engkau jawab
dari kesulitan kami terus melilit
***
BIODATA
Ibnu PS Megananda, lahir 1 Desember 1964 di Deli, Sumut.
Setelah tamat SMA berangkat ke Jatim, ngendon beberapa
bulan di Tarbiah, Muhammadiyah, Mojokerto. Pernah kerjadi
pabrik “Golden Hand dan Bumi Jaya” selalu dipecat kerena
dianggap penghasut untuk demo, dengan membaca kumpulan
puisi “Patonah dan Emaknya” bersamaan dengan kumpulan
puisi “Senandung Gelombang Pasang, Gegab Gempitakan Iman
Kami, Kami Tunmu Indonesia", yang kumpulan puisi belum
dibukukan itu hilang saat akan menghadiri acara baca puisi
di Taman Budaya Surabaya (TBS) 1992. Sejak SMA nulis puisi
dan ikut mendirikan Forum Penyair Majapahit (FPM) 1995.
Ikut penataran lokarya (Pentaloka) penyutradaraan teater
di DKS 1995 selama setengah tahun. Ikut bergabung dengan
Teater Nol, Surabaya, pimpinan Maimura. Pulang ke Medan
mangkal di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), sambil
sebagai kolomnis di media lokal. Di TBSU bergabung dengan
teater “Inset” pimpinan Ayub Badrin Tabah. Kembali lagi
berangkat ke Jawa tujuan ke Jogjakarta nyangkut di Banten.
Dan kini bersama seniman Banten menghadapi ketidakadilan
penguasa terhadap seni-budaya didaerah kelahiran Ki Kajali
dalang Wayang Garing tersebut. Kini hidup bersama istri
dan dua anak, Pelitapuspita Jalanidhi Menangkalbu dan
Muhamad Gending Pangruat Sastra Janaloka.***
 
|