25 Oktober 2005 - 00:43 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
[Artefak#11] KULIAH JARAK JAUH DI BANTEN, DIBUTUHKAN TETAPI...
PERGURUAN TINGGI DI BANTEN PASCA PROVINSI
Perubahan satus Banten dari kresidenan menjadi propinsi ternyata berdampak kepada banyak hal. Dua di antaranya pada bidang kesenian dan pendidikan. Di bidang kesenian, Beni Kusnandar pendiri Sanggar Tari Wanda Banten mengatakan bahwa dulu ketika Banten masih menjadi bagian dari Jawa Barat, pentas-pentas kesenian sangat jarang diadakan. Setelah Bentan menjadi propinsi, pentas kesenian sering diadakan baik di tingkat kabupaten maupun propinsi. Bahkan berbagai jenis tarian, katanya, lahir dengan subur. “Kesenian semakin berkembang setelah Banten menjadi propinsi. Tarian-tarian yang diciptakan juga semakin banyak,” uangkapnya.
Bidang lain yang juga semarak setelah perubahan status ini ialah pendidikan. Yang jelas menonjol pada bidang pendidikan yaitu apa yang disebut dengan penyelenggaraan kuliah jarak jauh. Drs Anis Fauzi, MSI; dosen kelas jauh di FKIP Universitas Mathla’ul Anwar Carenang, STKIP Banten, STAI Imam Syafi’I Tirtayasa, dan STAIBANA kampus Serang ini melihat embrio penyelenggaraan kuliah jarak jauh dari pendidikan pascasarjana pada bidang Manajemen Administrasi Bisnis, yaitu sekitar tahun 90-an.
POSITIF DAN NEGATIF
Dampak positif dari penyelenggaraan kuliah jarak jauh, menurut Anis, minimal ada enam poin. Pertama, bisa memberdayakan para sarjana yang belum memiliki pekerjaan tetap, terutama sarjana pendidikan (SPd) dan sarjana agama (SAg). “Ini mengingat begitu banyak sarjana agama lulusan perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta yang mengharap pekerajaan tetap, tetapi tingkat persaiangannya sangat ketat.”
Kedua, bisa mempercepat perubahan pola pikir masyarakat pedesaan. Hal ini, tuturnya, dibuktikan dengan banyaknya pemuda pedesaan lulusan SLTA yang tercatat sebagai mahasiswa perguruan tinggi kelas jauh. “Hanya memang kelas jauh ini kurang cocok bagi yang baru lulus.”
Ketiga, bisa memperpendek jarak tempuh bagi dosen dan mahasiswa terhadap aktivitas akademiknya. “Dengan dibukanya kelas jauh justeru mempermudah mahasiswa dan dosen. Maka faktor jarak, biaya transportasi, dan waktu perjalanan bisa ditekan.”
Keempat, bisa mempercepat pembangunan daerah pedesaan menuju daerah perkotaan. Fenomena demikian, katanya, dapat dibuktikan dengan banyaknya mahasiwa dan dosen yang melakukan perjalan ke kampus setiap hari kerja. “Semakin bagus jalur jalan raya dan semakin lancar perjalanan menuju kampus, maka akan semarak pula kehidupan kampus.”
Kelima, bisa memberikan keseimbangan pola pikir antara masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan menuju masyarakat kosmopolitan. “Melalui pembukaan kelas jauh diperkirakan dalam tempo tiga atau lima tahun pola pikir masyarakat pedesaan akan mengalami perubahan.”
Keenam, efektifitas perkuliahan terjamin, mengingat tempat tinggal dosen maupun mahasiwanya tidak jauh dari kampus.
Halaman: [ 1 ] 2  
|