30 November 2005 - 04:14 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
[Artefak #13] PERTAMAKALI NAIK KAPAL
Jalan-jalan ke Palembang (2)
Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Rencana ke Jambi Jum’at (28/10). Karena batal, kami langsung memutuskan pergi sore itu juga ke Palembang. Kata Gola Gong, “Besok saja abis sahur. Nyampe Lampung kalian pagi. Itu lebih baik. Kalian bisa lihat-lihat kota.” Well, kami nurut. Mungkin itu lebih baik. Daripada sampai Lampung tengah malam lalu kelimpungan. Jadi, malam itu kami santai-santai saja. Tetapi tidak lama kemudian, aku pengen beli sandal dan pakaian. Sebab, sebagain besar pakaianku aku bawa ke rumah. Aku kasihkan ke adikku. Itu aku lakukan karena aku harus ganti kostum. Rasanya kurang baik juga setelah lulus kuliah aku masih memakai pakaian kucel.
SENDAL
Maka, aku ditemani Rimba pergi ke Borobudur. Sialnya, aku memakai sandal sebelah-sebelah. Sebelah warnanya hijau, sebelah lagi biru. Sebelah ukurannya besar, sebelah ukurannya kecil. Sebelah masih bagus, sebelah lagi sudah hancur. Waktu aku pakai aku santai saja. Maklumlah sering cuek. Eh, pas masuk ke swalayan itu aku malu juga. Gimana nih? Kata Rimba, “Daripada nggak pake sandal, pakai aja itu.” Ya sudah, aku pakai saja sandal sebelahan itu.
Di lantai dua, ketika sedang memilih sandal, beberapa kali Wanja, poeserta kelas menulis Rumah Dunia angkatan kelima, bertanya lewat SMS: kalian sudah sampai mana? Aku jawab: We are still in Serang. Aku kasih tahu juga bahwa kami tidak jadi ke Jambi. Lalu dia kasih saran agar kami berangkat saat itu juga. Sampai stasiun Tanjungkarang menjelang subuh, katanya. Pagi-pagi pukul delapan berangkat ke Palembang. “Masalahnya kereta ke Palembang hanya dua kali sehari, pagi dan malam. Kalian ngambil yang pagi.”
Aku bergegas membeli sandal dan satu potong pakaian. Kami langsung pulang, merapikan kebutuhan: pakaian, buku catatan, pulpen, sikat gigi, charger, dan satu dua bahan bacaan. Saat itu sudah pukul 11. Kami langsung kirim SMS ke Mbak Tias bahwa kami berangkat. Ke Enek kami pamit. Dianter Deden kami naik motor ke Patung, “halte” bis di dekat terminal menuju Cilegon dan Merak.
KAPAL
Sejak SBY menaikan BBM, semua harga naik berlipat. Ongkos sebagai dampak langsung dari kenaikan tersebut naik tidak tanggung-tanggung. Ke Merak biasanya cuma dua-tigaribu rupiah, sekarang limaribu. Turun dari bis langsung ke pelabuhan. Ongkos menyebrang dari Merak ke Bakauhuni Rp7500. Di kapal petugas ngasih tahu bahwa kapal yang kami naiki kapal tambahan. Dan dermaganya berada jauh dari dermaga biasa. Di atas kapal, di tengah lautan, aku tidak melihat apa-apa, kecuali lampu-lampu di dermaga yang semakin menjauh dan bintang yang terserak di langit. Melalui SMS aku kasih kabar saudaraku bahwa aku sedang nyebrang dan akan pulang kampung setelah lebaran.
Halaman: [ 1 ] 2  
|