19 Desember 2005 - 16:43 (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
[ARTEFAK#14] NAIK KERETA PALING LAMA
Jalan-Jalan Ke Palembang (3)
Oleh Ibnu Adam Aviciena
Malam itu juga, setelah shalat di muslaha yang ada di pelabuhan Bakauhuni, kami berjalan ke terminal di sebelah Barat. Kami ingat Wanja, kami harus menuju Tanjungkarang untuk menunggu kereta pagi. Jika terlambat, ya sudah kami harus menunggu hingga malam berikutnya. Itulah barangkali alasan kami untuk tidak menginap di Bakauhuni.
Sebelum ke Tanjungkarang, kami naik bis menuju Rajabasa. Dari sana baru ke Tanjungkarang. Dari Merak ke Rajabasa kami gunakan untuk tidur. Kami sangat lelah. Sejak pukul 11 di Serang kami belum tidur. Sementara bis yang kami gunakan termat padat. Kami duduk berdempetan.
LEBIH BANYAK PREMAN
Hari sudah malam. Sudah lewat pukul tiga. Tiba di Rajabasa kami turun. Kami tidak tahu berapa lama waktu yang sudah kami habiskan di dalam bis itu. Yang jelas ongkosnya Rp15000. Dengan ongkos sebesar itu, aku yakin jarak yang kami tempuh cukup jauh.
Di Merak banyak preman. Turun dari kapal langsung dihampiri banyak preman. Di Rajabasa lebih parah lagi. Selain jumlah preman yang lebih banyak, preman-preman itu juga terus meningikuti kami. Padahal kami ingin istirahat. Barulah mereka tidak mengikuti kami setelah kami masuk pos polisi. Di dalam pos polisi itu banyak penumpang yang sedang istirahat. Dari wajah mereka aku bisa tahu betapa lelah mereka. Mereka, orang yang istirahat itu, aku kira ada sekitar 200 orang.
Kepada polisi kami minta tahu kendaraan mana yang harus kami naiki menuju stasiun Tanjungkarang. Katanya kami harus naik angkot. Ongkosnya Rp2 ribu. Setelah minta info dari polisi, kami menuju satu sudut tempat parkir angkot. Baru saja keluar dari pos polisi preman langsung membuntuti. Dengan menggunakan jasa angkot kami menuju stasiun Tanjungkarang. Tiba di Tanjungkarang menjelang subuh. Mungkin pukul 3:30 atau pukul 4. Aku tidak ingat betul.
Di stasiun itu sudah banyak orang menunggu. Sebagain besar tidur di emperan. Calon penumpang tidak bisa masuk, karena ruangan stasiun ditutup menggunakan folding door. Hingga pagi aku tidur tanpa alas. Pukul 6 stasiun baru dibuka. Orang-orang langsung berebut masuk dan membuat antrian. Sementara loket baru dibuka satu jam kemudian. Jadi, selama satu jam kami menunggu.
TIDAK PUASA
Kami lapar. Kami pengen kencing. Setelah kencing kami mencari warung nasi. Kami makan pada hari itu. kami tidak puasa. Untuk bekal selama perjalan kami masing-masing membawa satu pelastik susu jahe hangat. Lumayan untuk mengisi energi yang terus menyusut.
Pukul 8 kami berangkat dari Tanjungkarang menuju Kertapati di Palembang. Harga tiket Rp16000. Wanja bilang kami akan nyampe tujuan abis magrib. Hampir setiap kali kereta berhenti di stasiun aku melirik, ingin tahu nama stasiunnya, khawatir terlewat. Apalagi tempat dudukku dan Rimba beda gerbong. Mungkin kekhawatiranku tidak terlalu besar andai saja baterai HP-ku masih hidup. Ini sejak di kapal sudah rendah (low).
Di kereta tersebut aku duduk dekat batas gerbong, duduk bersama anak Sumatra, tapi bukan Palembang. Aku bisa bilang begitu karena mereka turun lebih cepat dari aku. Aku juga tidak tahu apakah mereka kuliah di Jawa atau di Lampung. Dari pembicaraan yang sulit aku mengerti, aku sedikit tahu, satu di antara mereka ada yang baru kuliah. Mungkin semester dua. Di antara mereka juga ada yang bertanya kepada aku. “Mau ke mana?” katanya. Sebab aku lupa nama stasiun yang aku tuju, untuk menjawab pertanyaannya aku mengambil tiket di tas. Lalu aku jawab, “Kertapati!”
“Mau ke Palembang?”
“Ya.”
Halaman: [ 1 ] 2  
|