19 Desember 2005 - 17:19 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
TIGA PUISI KHUSNUL KHULUQI:     
1.
PEREMPUAN DALAM PERAHU
engkau perempuan yang kurindu
pergi dengan berkendara perahu
entah di mana engkau akan berhenti
sebab terlampau banyak tempat
untuk singgah di sungai ini
kampung-kampung jauh akan kaupijak
bersama air mata rindu
dan juga darah cinta
yang engkau bawa jauh dari pesisir
sepanjang hilir
aku akan sendiri di kota ini
melukis jejak matahari di taman
nasib tak bisa ditawar seperti membeli
seikat sayur di pasar kentut*
sebab nasib adalah suratan
yang tergambar ditapak tangan
engkau perempuan yang kurindu
yang kulepas pergi dengan berkendara perahu
karena aku cinta, aku akan menunggu
walau hati mesti bertarung rindu
2005
*Pasar Kentut adalah nama pasar di kota
Palembang. Penjual dan pembeli
umumnya etnis Cina.
***
2.
DI JEMBATAN MUSI
bulan kehilangan wajah
tak bisa bercermin
di arus sungai yang lelah
di bawah bebintang
perahu-perahu tetap berlayar
di janggut malam
di kolong jembatan
jejak-jejak ditatah
di antara pasir dan tanah
2005
***
3
LELAKI SUNGAI
“aku akan setia menunggu
sungai ini jadi saksi
akan sumpah yang aku
ucapkan,” katamu di suatu
masa. awal sebuah cerita
maka aku pun berlayar
ke negeri-negeri jauh
ke hilir sungai
untuk mencari peruntungan
bagi hidup hari ini
juga esok nanti
begitu aku percaya
akan sumpah setiamu
karena itu aku pergi
mengarungi derasnya Musi
tanpa sangsi di hati
bertahun ketika cerita ini
kugali lagi
aku pulang, berlayar ke asal
ke hululah perahu melancar
ke tempat dulu ditambat
perahu mendekat
hanya dingin pasir
gubuk kosong
dan senja kering
menyambutku
aku lelaki sungai
biasa bertarung dengan arus deras
dengan sengat runcing udara malam
bahkan dengan galak sinar matahari
maka, aku pun tak menangis
walau hati perih teriris
2005
***
BIODATA: Husnul Khuluqi, biasa dipanggil Lulu dilahirkan dan dibesarkan di kampung Krapyak, Lumbir, Banyumas, Jawa Tengah. Puisi-puisinya dipublikasikan di berbagai media massa Indonesia juga Brunei Darussalam, seperti Swadesi, Pikiran Rakyat, Pedoman Rakyat, Analisa, Koridor, Suara Karya, Bandung Pos, Republika, Bahana, Media Indonesia, Jurnal Puisi dan Horison. Puisi-puisinya juga tergabung dalam antologi bersama seperti, Trotoar, Antologi Puisi Indonesia 1997, Pabrik, Cisadane, Cisadane 2, Jakarta Dalam Puisi Mutakhir, Resonansi Indonesia dan Bisikan Kata Teriakan Kota. Oktober mengikuti Mastera di Jakarta. Desember 1997 mengikuti PSN IX di Kayutanam, Sumatera Barat. April 1999 mengikuti PSN X di Johor Bahru, Malaysia. Desember 2003 mengikuti Temu Sastra Jakarta. Juli 2004 mengikuti temu Sastrawan MPU di Anyer, Banten. Beberapa puisi buruhnya sempat dibacakan pada rapat CAFO ( Conference of Asian Foundation and Organization ) juga pada Sastra Senja, DKJ. Aktif di Komunitas Sastra Indonesia. Sekarang tinggal di Serpong dan bekerja sebagai buruh pabrik benang di Karawaci, Tangerang.
***
 
|