25 Januari 2006 - 19:04 (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
MENGEMBANGKAN IDE BAGI CERITA PENDEK*
Oleh Ahmadun Yosi Herfanda
Halaman sebelumnya Pengembangan ide dengan teknik dan unsur-unsur cerita seperti di atas lazim dipakai pada fiksi-fiksi realistik, yang masih meperhatikan pentingnya unsur-unsur cerita secara lengkap, serta mengenal runtutan cerita (alur) sejak pemaparan, krisis, klimaks dan ending. Kemampuan untuk mengolah tema melalui unsur-unsur dan teknik bercerita itulah yang menjadi kekuatan utama fiksi realistik. Namun, jenis-jenis fiksi simbolik, surealis, atau mosaik, sering tidak lagi memperhatikan kelengkapan unsur-unsur cerita tersebut, dan mencoba menggantikan kekuatan cerita itu dengan kekuatan lain, seperti kekuatan simbol (Danarto), teror logika (Putu Wijaya), keunikan imajinasi (Seno Gumira Adjidarma), atau pemberontakan estetik-tematik (Ayu Utami).
***
Jika ingin kreatif dan produktif, seorang pengarang cerpen (cerpenis) harus aktif, menggali, memburu dan menangkap bersitan ide cerita, yang sering disebut sebagai ‘ilham’ atau inspirasi. Inilah yang dilakukan oleh pengarang-pengarang ternama yang produktif, seperti Putu Wijaya, Emha Ainun Najid, dan Seno Gumira Ajidarma. Putu Wijaya bahkan pernah menyarankan, kalau perlu ‘perkosalah’ dirimu sendiri untuk kreatif dan produktif dalam mengarang.
Penyair Abdul Hadi WM pernah memberi saran kepada para pemula, ‘’menulis dan mulai menulislah, meski tidak ada ‘ilham’ di kepalamu. Ilham akan hadir atau mengalir saat engkau mencoretkan pena di atas kertasmu.’’ Dengan cara itu pula Putu Wijaya memperkosa dirinya sendiri, memaksa diri menulis dan terus menulis.
Jadi, sumber ilham sebenarnya ada dalam diri pengarang sendiri. Ia akan hadir dan mengalir manakala pena sang pengarang tajam menyentuhnya. Ia akan memancar manakala sang pengarang mau bekerja keras menggalinya, layaknya seorang penggali sumur yang memburu ‘mata air’ yang akan terus mengalir. Cara terbaiknya adalah dengan menulis itu sendiri.
Pengalaman hidup pengarang, penghayatan religiusitasnya, kekayaan intelektualnya, pengalaman beribadahnya, penderitaannya, kerinduannya pada sang kekasih, kesepiannya, kejengkelannya pada dunia di sekitarnya, kepekaan sosial dan politiknya, pandangan kritisnya terhadap tradisi dan modernitas, serta apa saja yang bergejolak di dalam diri sang pengarang serta reaksi batinnya terhadap berbagai fenomena di lingkungan sekitarnya, adalah lahan-lahan subur bagi lahirnya seorang bayi bernama ide cerita. Di lahan-lahan itulah sang ilham, inspirasi, atau ide cerita, biasa menggeliat atau melintas. Tinggal bagaimana kecekatan sang pengarang untuk menangkap dan mengolahnya menjadi karya sastra.
Tentu, sumber ilham juga bertebaran di lingkungan sekitar pengarang, di kampus, di balaikota, di hotal, di pasar, di masjid, perpustakaan, di dapur, di tempat tidur, warung kopi, di gang-gang kumuh, di trotoar-tortoar pertokoan, di persawahan, di kampung, di taman bunga, di pinggir kali, di panas terik pantai, di dalam kabut dingin pegunungan, di dalam gerbong kereta api, di dek kapal penumpang, kepadatan bus kota, dan di tengah kemacetan lalu lintas sekalipun.
Dari tebaran sumber ilham itu, yang diperlukan adalah kepekaan sang pengarang untuk menangkap isyarat-isyarat kreatif yang dilihatnya dan kemampuan imajinasinya untuk merekayasa serangkaian cerita, atau mata rantai imajinasi, dari isyarat-isyarat tersebut. Di kalangan penyair, isyarat itu biasa disebut sebagai sentuhan puitik (poetical touch), sedangkan di kalangan penulis fiksi biasa disebut sebagai sentuhan imaji (imagical touch).
Halaman: 1 [ 2 ] 3 4  
|