14 Maret 2006 - 21:13 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
[Jurnal #167] HARI BUKU SEDUNIA, TEMU KOMUNITAS SE-BANTEN, DAN PROYEK 3/3     
Oleh Ibnu Adam Aviciena
Mungkin banyak orang belum tahu bahwa 23 Maret adalah hari buku sedunia. Di Eropa dan beberapa negara maju lainnya, warganya biasa merayakannya hari buku ini. Di Indonesia sendiri, menurut koordinator Forum Indonesia Membaca (FIM) Wien Muldian, hari buku baru dirayakan satu kali, yaitu pada 2-5 Maret 2006 kemarin. Acara yang diselenggarakan oleh FIM tersebut mengambil tempat di Perpustakaan Pendidikan Nasional, Senayan@library, Jakarta.
Hari Buku Sedunia
Untuk menyukseskan acara dengan tema “Merayakan Buku Membangun Literasi” itu, FIM melibatkan banyak pihak, baik sponsor yang menyokong dana, media massa untuk publikasi, penerbit, maupun komunitas baca. Komunitas baca dimaksud antara lain: Rumah Dunia, Komunitas Ruang Baca Tempo, Komunitas Pekerja Buku Indonesia, Rumah Pelangi Muntilan, Forum Lingkar Pena, Yayasan Tunas Cendikia, Yayasan Mitra Netra, Paguyuban Karl May Indonesia, Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM), Kelompok Pecinta the Lord of the Ring, Komunitas Bunga Matahari, Sahabat Wahana Lingkungan Hidup, Jurnal Perempuan, Institute for Global Justice, Komunitas Pedoeli Kampoeng Halaman (KALAM), Rumah Baca Sosiologi UI (Rumba), Sekitar Kita, Warung Bacaan Anak (Wacana) KKS Pelita Hati, dan masih banyak lagi.
Seperti juga dengan komunitas lain, Rumah Dunia mengenalkan program kegiatan yang biasa dilaksanakan kepada para pengunjung. Selama empat hari di sana, di berbagai stan terjadi diskusi-diskusi. Mereka umumnya bertanya tentang bagaimana mengelola perpustakaan, sumber dana, dan semua hal yang berkaitan dengan membangun budaya literasi. Saking ramainya yang datang, dua rim brosur Rumah Dunia yang dicetak gratis oleh Suhud Media Promo habis dalam tiga hari.
Mengikuti perayaan hari buku sedunia, saya dan relawan Rumah Dunia lainnya;Muhzen Den, merasa cemburu. Di sana kami bertemu dengan begitu banyak pecinta buku. Dimana buku diposisikan bukan sebagai barang mewah. Berbeda dengan di Banten. Kecuali Tangerang, Banten sama sekali tidak mempunyai toko buku yang lengkap. Sangat susah menemukan buku yang sedang hangat dibicarakan. Dan tentu lebih susah lagi mencari buku dengan harga murah.
Memang acaranya ada apa saja? Jangan ditanya. Semua orang yang mencintai buku merasa dimanjakan. Pada hari pertama ada kuis tebak buku, diskusi “Merayakan Buku, Membangun Literasi” dengan pengentar diskusi Prof. Dr. Fuad Hassan dan pembicara Fira Basuki, Mula Harahap, Richard Oh, Dian R. Basuki. Ada juga diskusi “Menggali Potensi Diri melalui Membaca dan Menulis”. Diskusi yang ini diantarkan oleh Dr. H. Arief Rachman, MPd dengan pembicara Dr. Martin L. Sinaga (penerjemah buku) dan Donny Gahral Adian, M.Hum (penerjemah buku dan dosen UI).
Halaman: [ 1 ] 2 3  
|