21 Maret 2006 - 06:50 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
[Jurnal #168] DUTA KAMPUS STIE SERANG, DAN TEMU KOMUNITAS
Oleh Bonang Purbaya
Waktu menunjukan pukul 13.00. WIB pada Sabtu (18/3) itu ketika rombongan finalis Duta Kampus STIE 2006 datang. Dengan busana jas hitam mereka memadati kursi plastik warna-warni di halaman depan panggung. “Mereka berkunjung ke Rumah Dunia untuk mengenal lebih dekat komunitas literasi di Banten,” ucap Atun Pratiwi, yang menyabet jawara Duta Kampus 2005 bersama pasangannya; Candra Purnama.
NONTON PUISI
Hamdan, Ketua STIE Serang, merasa senang bisa membawa para mahasiswanya ke Rumah Dunia. Hamdan berharap bisa ada sinerji. Cecep Abdul Hakim, salah satu panitia Duta Kampus, mengutarakan kedatangannya ke Rumah Dunia untuk mendekatkan mahasiswa pada aktivitas sosial dan perbukuan. Mereka berdiskusi tentang Rumah Dunia dengan Gola Gong, Toto ST Radik dan para relawan. Selesai berdiskusi, mereka keliling Rumah Dunia dan mengunjungi jajanan kampung di area parkir. Buku terbaru Gola Gong; Menggenggam Dunia, mereka borong hingga ludes. Juga jepret sana-jepret sini.
Pukul 14.00 WIB, kegiatan “Proyek Puisi 3/3” digelar. Para duta kampus STIE Serang tidak beranjak pulang. Mereka asik mengikuti para seniman beraksi membacakan puisinya. Mereka terkagum-kagum dengan cara penyair membacakan puisinya. Proyek Puisi 3/3 ini berlangsung tiga bulan sekali. Dimulai September 2005, menampilkan tiga penyair yang berdomisili di Banten. Episode ketiga Sabtu (18/3) kemarin, penyair Ahmad Supena (Pandeglang), Irwan Sofwan (Serang), dan Niduparas (Tangerang) tampil. Pembahasnya Iwan Gunadi (Ketua Komunitas Sastra Indonesia). Saat itu juga diluncurkan antoloji puisi “dari Batas Waktu ke Perjalanan Kamar sampai Kabar dari Langit”. Sebuah pensil berpahat tangga menerobos cerobong bengkok dan mengeluarkan kabar dari langit ,adalah cover antologi puisi hasil goresan tangan Indra Kesuma, PJ. Wisata Gambar di Rumah Dunia, yang juga guru kesenian SMA Al-Azhar, Pakupatan, Serang.
Masih banyak mengira “Proyek Puisi 3/3“ adalah proyek yang mendapatkan banyak dana dari instansi pemerintah tertentu. Padahal proyek ini, menurut Toto ST Radik, merupakan program kegiatan SanggarSastraSerang (s3) dan Rumah Dunia yang dirancang untuk menggairahkan (kembali) denyut kepenyairan di Banten. Biaya cetak antologi puisinya saja dari kas Rumah Dunia dan suppotring Suhud Media Promo. Jadi, tidak sepeser pun mendapat bantuan dana kesenian APBD Banten yang yang entah raib ke mana.
DISKUSI
Ibnu Adam Aviciena memimpin diskusi. Ketiga penyair memaparkan proses kreatifnya dalam menulis. Iwan Gunadi memaparkan, mencari untuk menemukan atau ditemukan dan mencari untuk berpisah diri dalam kesadaran pergerakan waktu kelihatannya menjadi benang merah puisi-puisi yang ditulis ketiga penyair. Inilah kesadaran spritual yang ditularkan ketiga penyair dengan tingkat kedalaman berbeda-beda. Sayangnya, seluruh upaya penularan itu digarap umumnya dengan tingkat penguasaan bahasa yang masih lemah dan kemampuan bertutur yang masih terbata-bata.
Halaman: [ 1 ] 2  
|