28 Maret 2006 - 21:04 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
[jurnal #169] DUNIA WARNA, PERPUSTAKAAN, BANTEN MEMBACA
Oleh Langlang Randhawa
Dalam rangka mengembangkan kreatifitas anak, Kamis (23/3) Pukul 14.00, Rumah Dunia menggelar lomba mewarnai bagi anak-anak. Sekitar 100 anak dari Ciloang, Kubil dan Kesuren menyerbu Rumah Dunia. Mereka sangat berantusias sekali mengikuti lomba. Setelah Tias Tatanka, ketua pelaksana Rumah Dunia dengan dibantu beberapa volunteer, mengumumkan pengkategorian lomba yang terdiri dari kategori SD, TK dan pra-TK, anak-anak berebut mengambil kursi. Membuat kelompoknya sendiri-sendiri. Mereka tidak sabar, berteriak-teriak ingin mendapatkan pinsil warna dan kertas gambar yang akan diwarnai
MENGGAMBAR
Tak lama, suasana yang tadinya gaduh berubah menjadi lengang. Anak-anak larut dalam keasikan memilih-milih warna. Di tengah suasana hening, datanglah sebuah mobil abu-abu. Dua orang keluar dari dalamnya. Seorang pria dengan sebuah kamera menggantung di lehernya dan perempuan. Aji Setiakarya menghampiri mereka. Ternyata mereka fotografer dan wartawan tbloid NOVA. Kedatangan mereka bertujuan meliput komunitas Rumah Dunia untuk dimasukan ke dalam salah satu rubrik di tabloid tersebut.
Setelah ngobrol-ngobrol, mereka menjeprat-jepretkan kameranya ke sekeliling areal Rumah Dunia. Anak-anak yang masih khusuk dalam dunia warnanya, nampak gembira ketika aktifitas mereka diabadikan. “Selain ajang pengembangan kreatifitas, lomba ini juga melatih anak agar lebih pandai memilih dan menggunakan warna yang cocok untuk sebuah objek gambar,” ujar Tias Tatanka, menjawab pertanyaan Reforter NOVA.
SEMINAR
Pagi itu, Sabtu (25/3) saya bangun lebih pagi dari biasanya. Mandi sebentar, lalu bergegas shalat. Tak lupa, saya membangunkan Muhzen Den. Hari itu saya dan Deden, begitu ia akrab disapa, diajak Gola Gong yang akan menjadi pembicara pada seminar “Membaca Cepat dan Seni Mengelola Perpustakaan”, yang diadakan kelompok Kompas Gramedia di TB Gramedia Matraman, Jakarta. Sementara, Ibnu Adam Avicena, Rimba Alangalang dan Aji Setiakarya tidak ikut. Mereka sudah mendapatkan jadwal masing-masing ke beberapa daerah: Bogor, Bandung, dan Sukabumi, masih dalam rangka yang sama, menemani Gola Gong sebagai pembicara seputar dunia perpustakaan.
“Siap?” tanya Gola Gong dengan pakaian rapi. Kami segera mengecek ulang apa-apa yang akan kami bawa untuk dipamerkan di stand yang disediakan Kompas Gramedia; Empat frame dokumentasi kegiatan Rumah Dunia; Lima kaos dan 20 gantungan kunci marchandise Rumah Dunia; beberapa buku puisi antologi proyek puisi Tiga Pertiga; Brosur Rumah Dunia dan liflet “Menggenggam Dunia”, buku terbaru Gola Gong.
Pukul 09.00 sampai di lokasi. Sebagian peserta yang terdiri dari berbagai kalangan: Ibu-ibu, mahasiwa dan remaja sudah menempati kursi yang telah tersedia. Saya dan Muhzen segera menata meja stand untuk membuka pemeran.
Halaman: [ 1 ] 2  
|