17 Mei 2006 - 20:55 (Diposting oleh: Gola Gong)
MEMBACA SENJA
Sebuah Kado untuk Pipiet Senja
Di usiamu yang hampir setengah abad juga, ternyata Dia masih
mengirimkan berbagai cobaan. Nyata benar Dia sangat sayang padamu.
Dia tahu kokohnya imanmu.
Sebelum aku mengenalmu, aku sering mengeluh; atas kelemahan
tubuhku, atas kerapuhan ragaku. Sungguh aku kurang bersyukur dengan
apa yang dianugerahkanNya kepadaku. Ketika penyakit menggerogoti
tubuh, aku berpikir mati, dan matilah aku saat itu juga. Sampai
suatu hari aku menemukan buku. Buku yang menceritakan kisah hidupmu.
Dan mataku terbuka. Semangatku menyala. Membaca kisahmu, aku
beristigfar. Aku lebih beruntung dibandingkan takdirmu.
Terlahir dengan nama Etty Hadiwati Arief di Sumedang, sejak balita,
kau sudah sering sakit-sakitan. Sembuh dan sakit layaknya matahari
yang terbit dan tenggelam. Jika sakit, wajahmu pucat seperti mayat,
perutmu buncit seperti orang hamil. Setelah bertahun-tahun, Ayahmu
akhirnya tahu, kau menderita thalassemia, penyakit kelainan darah
genetik. Penderitanya tidak bisa memproduksi darah secara normal.
Harus ditransfusi secara berkala seumur hidup.
Aku membayangkan saat pertama kali kau ditransfusi. Kau harus
diopname dulu beberapa hari. Sehari sebelumnya kau di-BMP,
penyedotan cairan sumsum tulang belakang melalui tulang dada dan
punggung, untuk memeriksa lebih lanjut kelainan darahmu. Saat itu
kau belum genap berusia dua belas tahun. Kau hanya bisa menjerit-
jerit kesakitan sambil menyeru asma-Nya seorang diri. Ibumu tak bisa
menemani karena sedang sakit juga. Ayahmu harus dinas setelah
semalaman menungguimu. Bisa kurasakan, betapa sepi dan pilu begitu
akrab denganmu.
Pengalaman pertama yang menyakitkan itu membuatmu belajar
tegar. Setelah sebulan diopname kau kembali sekolah. Kau berhasil
melewati ujian SD dengan gemilang, bahkan berhasil menyabet juara
umum di SD PMOG. Kau selanjutnya meneruskan pendidikan di SMP 28
Filial, Utan Kayu.
Selama duduk di bangku SMP, kau harus menjalani transfusi
darah setiap tiga-empat bulan sekali. Saat itu prosedur dan
peralatan kedokteran belum secanggih sekarang. Untuk ditransfusi kau
harus menginap minimal seminggu. Sehari untuk cek darah, hasilnya
baru bisa diperoleh keesokan harinya. Pesan darah ke PMI, atau
mencari donor langsung. Hari ketiga barulah darahnya bisa
ditansfusikan. Proses tranfusinya berlangsung sepanjang malam.
Kalau terjadi alergi seperti demam dan gatal-gatal transfusi
dihentikan. Dipasang kembali jika kondisimu membaik. Usai transfusi,
cek darah kembali. Setelah diketahui hasilnya bagus, baru dokter
mengijinkan pulang. Begitu rumit dan sangat makan waktu.
Meski begitu, kau masih bisa menamatkan SMP dengan nilai
rata-rata delapan. Kau menjadi kesayangan wali kelas dan berapa
orang guru. Hatimu masih diliputi berbagai impian dan cita-cita.
Saat itu kau ingin sekali menjadi KOWAD. Seorang guru Bahasa
Indonesia pernah menyarankanmu menjadi pengarang saja. Tapi kau
menepisnya. Menurutmu menjadi KOWAD lebih keren. Guru itulah yang
sering meminjamkannya bacaan-bacaan sastra padamu. Lulus SMP kau
Halaman: [ 1 ] 2 3 4  
|