19 Januari 2005 - 16:11 (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
[Stop Press] BALADA SI ROY TERBIT LAGI!     
Press Release Penerbit Beranda Hikmah
Masih ingat novel serial “Balada Si Roy” karya Gola Gong? Pada tahun 1989 – 1994 diteritkan dalam 10 jilid oleh Gramedia Pustaka Utama? Setelah tertidur selama 10 tahun, “Balada Si Roy” muncul lagi. Adalah Melvi Yendra, Penerbit “Beranda Hikmah”, yang membangunkannya. Kesepuluh novel "Balada Si Roy" itu:
1. Joe, 1990
2. Avonturir, 1990
3. Rendes-vouz, 1991
4. Bad Days, 1991
5. Blue Ransel, 1991
6. Solidarnos, 1992
7. Telegram, 1992
8. Kapal
9. Traveller, 1993
10. Epilog, 1994
“Bagi kami, Balada Si Roy adalah legenda!” kata Melvi. Kini kesepuluh buku itu diterbitkan menjadi 4 buku saja oleh Beranda Hikmah. Pada 2 Oktober 2004 lalu, di Panggung Hall B, Indonesian Book Fair JCC, Senayan,Jakarta, diluncurkan sekaligus 2 buku. Buku kesatu gabungan dari Joe dan Avonturir, serta buku kedua gabungan dari Rendes-vous, Bad Days, dan Blue Ransel.
KONTES ROY
Pada saat launching teresbut ada pementasan fragmen “Roy” dari anak-anak Rumah Dunia, yang menceritakan bagaimana Roy pertamakali menginjakan kakinya di Serang, kota yang punya stigma buram; teluh, santet, pelet, dan black magic. Naskah fragmennya ditulis oleh Toto ST Radik, penyair nasional asal Serang, yang puisi-puisnya memberi roh di setiap awal episode “Balada Si Roy”. Juga ada Pembacaan dan musikalisasi puisi oleh Firman Venayaksa dan RG Kedung Kaban, yang diambil dari puisi “Blue Ransel”. Dengarkan lagu yang mereka nyanyikan itu:
kudengar gemuruh ombak lautan
nyanyian daun-daun dan serangga malam
angin mendesau membisikkan sesuatu
dan bau tanah pegunungan memanggiliku
maka kutinggalkan rumah dan ranjang mimpi
pergi mengembara ke belantara sunyi
menggendong ransel sarat beban
: o, apa sebenarnya yang kau buru?
lakon apa yang ingin kau mainkan?
ya, akulah si pengembara
terus bergerak ke cakrawala
walau beribu kali tersungkur kenyataan
jiwaku menolak kebuntuan jalan
ya, akulah si pengembara!
Serta doorprize dan kontes Roy. Siapa yang merasa memiliki karakter yang sama dengan tokoh ‘Roy”; macho, ganteng, gondrong rambutnya, hobi baca sastra, naik gunung, dan mencintai keindahan yang dimiliki perempuan, serta peduli pada lingkungan, berlarian ke panggung. Mereka menyndang ransel segala. Ternyata yang terpilih dari yang ada: Wangsa Nestapa! Dia terpilih sebagai “Roy” dadakan!
DISKUSI
Saat launching juga diadakan diskusi. Pembicaranya Indra (Replek majalah HAI) dan Gola Gong. Melvi Yendra memandu acara. Rata-rata peserta diskusi menyambut kemunculan “Balada Si Roy”.Beberapa penanya “menuntut” HAI menyediakan lagi rubrik fiksi dan serial.
“Bagi kami, Balada Si Roy adalah ukuran. Katakanlah legenda. Bukannya kami tidak ingin rubrik fiksi diadakan lagi. Setiap saat kami menerimba bnyak kiriman cerpen atau serial. Tapi rata-rata kualitasnya dibawah Roy. Ayo, jika ada yang punya manuskrip yang bagus, ide baru dan esgar, kirimkan pada kami!” tantng Indra.
***
 
|