About  |  Activity  |  Home  |  Volunteer  |  Populer  | 
 
 

     Sabtu, 11 September 2010     
 R U B R I K
Agenda
Brankas
Catatan Perjalanan
English Version
Gerbang
Jurnal
Kelas Menulis
Kliping
Lintas Komunitas
Ode Kampung
Parade Karya
Pustakaloka
Rintisan Balai Belajar Bersama
TBM@Mall Banten Membaca
Tips
Warta Relawan
 Gerbang
KISAH SI PEMOTONG RUMPUT ALIAS SENIMAN PLAT BAJA
Oleh Gol A Gong*
Seorang lelaki bertubuh kurus mematikan alat pemotong rumputnya. Telinganya terasa plong setelah sekitar 2 jam lebih dicekoki bunyi “gggrrkkkkkk…” mesin pemotong rumput. Rambut gondrongnya dikuncir. Keringat yang mengucur di wajahnya diusap dengan punggung...
08 September 2010 - 09:37
Arsip... 
 Warta Relawan
DARI PEDAGANG GORENGAN, JADI RELAWAN RUMAH DUNIA, WARTAWAN SEKALIGUS LOPER KORAN BANTEN RAYA POST, K
Oleh Harir Baldan
“Alhamdulillah...” itulah kata syukur yang terucap dari mulut saya usai menggelar rapat evaluasi Pesta Anak Rumah Dunia, Minggu (25/7) lalu. Ucapan rasa syukur dan terima kasih itu saya haturkan kepada para donatur Rumah Dunia yang sudah membantu berlangsungnya kegiatan di...
08 Agustus 2010 - 00:40
Arsip... 
 Gerbang

23 Juni 2007 - 06:43   (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
KONSEP RUMAH DUNIA: POTONG GENERASI!
Oleh Firman Venayaksa*)

Kehadiran perpustakaan sebagai tempat untuk mencari ilmu dan menggali informasi tentang pelbagai hal nampaknya memang tidak bisa disingkirkan dalam peradaban kehidupan manusia yang semakin pesat berkembang. Namun perpustakaan yang selama ini hadir ternyata hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita. Tidak menjadi barang skunder apalagi primer. Pada akhirnya buku menjadi barang lapuk dan rapuh, sendiri, sepi, dan tak banyak yang menggauli. Pertanyaan kemudian hadir, ada apa dengan masyarakat kita? Pertanyaan yang lebih ekstrim bergulir, ada apa dengan konsep perpustakaan kita?

Dua pertanyaan di atas agaknya penting untuk kita kaji, sebagai bahan untuk melejitkan pemahaman kita tentang masyarakat sebagai subjek yang seharusnya menggauli buku dan perpustakaan sebagai objek yang menyediakan buku. Penting untuk mengingatkan kembali bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang berititiktolak pada wacana-wacana lisan atau yang kita kenal dengan konsep aliterat, mereka bisa membaca tetapi tidak dijadikan kebiasaan dalam kehidupan keseharian. Pentingnya membaca tidak berkorelasi dengan pentingnya mencari uang misalnya, yang pada akhirnya membaca hanyalah menjadi penting bagi orang-orang yang ingin membunuh waktu.

Selanjutnya mari kita sedikit membincangkan stereo type perpustakaan di Indonesia. Kecenderungan perpustakaan sebagai tempat yang horor alias angker seperti kuburan sudah menjadi epidemik tersendiri bagi orang-orang yang mau mengunjungi perpustakaan. Buku-buku lapuk, rak-rak yang bisu, meja dan kursi yang kaku, pelayan perpustakaan yang mengunci rapat-rapat mulutnya untuk sekadar tersenyum nampaknya telah menjadi bagian ortodoks yang sulit untuk diubah. Mengapa harus selalu seperti itu? Mengapa tidak kita ciptakan sebuah lingkungan perpustakaan yang memiliki aura warna-warni dan berseri alias funky and sexy?

Subjek yang belum menjadikan buku sebagai konsumsi keseharian dan objek yang tak juga membuka diri dengan keadaan nampaknya betul-betul telah mengakibatkan terlahirnya jurang yang sangat dalam dan terjal. Bagaimanakah menjembatani jurang tersebut? Berdasarkan penguraian di atas, setidaknya kita bisa meramu hal-hal yang bisa kita perbuat.

Membuat masyarakat yang terbiasa tidak terbiasa membaca menjadi terbiasa dan membiasakan membaca memang bukan pekerjaan yang mudah. Perlu banyak waktu untuk mengubah kebudayaan tersebut. Hal yang paling radikal untuk mendesak agar masyarakat kita nantinya menjadikan membaca sebagai salah satu kebiasaan dalam menjalani kehidupan, menanamkan betapa pentingnya sebuah buku adalah dengan melaksanakan konsep ¡§potong generasi¡¨. Konsep ini berarti kita harus berani membetot (membagi dua) dari satu tubuh kehidupan manusia, mencari fase mana yang lebih mudah untuk didoktrin dan disodorkan sebuah bentuk kebaruan-kebaruan.

Halaman:  [ 1 ]  2  

 Kirim ke teman Versi cetak Beri nilai Komentar (View: 1451 | Refer: 0 | Print: 187 | Rate: 0.00 / 0 votes | Comment: 1)

Selanjutnya:
JANGAN MATIKAN TV! – 19 Agustus 2007 - 03:38
PELAJARAN KEPADA ANAK – 02 Agustus 2007 - 20:57
PERNYATAAN SIKAP SASTRAWAN ODE KAMPUNG – 24 Juli 2007 - 19:56
ODE KAMPUNG 2: PESTA PERAYAAN KOMUNITAS – 19 Juli 2007 - 03:20
MEMBANGUN KAMPUNG DUNIA – 30 Juni 2007 - 20:16

Sebelumnya:
MENGHAPUS STIGMA “SADIGO” DAN DICARI PEMUDA BANTEN – 13 Juni 2007 - 02:31
NOVEL TERBARU GOLA GONG: LABIRIN LAZUARDI – 14 Mei 2007 - 23:46
RUMAH DUNIA BUKAN KEINGINAN SATU MALAM – 19 Maret 2007 - 14:02
MIMPIKU BELUM SELESAI – 18 Maret 2007 - 00:39
PUTRIKU JADI PENGARANG – 12 Maret 2007 - 09:38

Supported by Intervisi

didukung oleh RumahSehat.com
 Artikel Terbaru
Agenda:
MINGGU INI, ADA KADO LEBARAN DI TAMAN BUDAYA RUMAH DUNIA
Agenda
Brankas:
RUMAH DUNIA MELUNCURKAN RINTISAN BALAI BELAJAR BERSAMA 2010
Brankas
Catatan Perjalanan:
RELAWAN RUMAH DUNIA MANCING DI GANDARIA
Catatan Perjalanan
English Version:
THE SECRET MILLIONAIRE
English Version
Gerbang:
KISAH SI PEMOTONG RUMPUT ALIAS SENIMAN PLAT BAJA
Gerbang
Jurnal:
KADO LEBARAN RUMAH DUNIA PESTA UNTUK ANAK
Jurnal
Kelas Menulis:
KELAS MENULIS RUMAH DUNIA ANGKATAN KE-16 DIBUKA
Kelas Menulis
Kliping:
MASYARAKAT YANG KACAU
Kliping
Lintas Komunitas:
FAHMIL QUR’AN: SAMBUT RAMADHAN DENGAN IKHTIFALAN
Lintas Komunitas
Ode Kampung:
ODE KAMPUNG #4: BANTEN ART FESTIVAL DI TAMAN BUDAYA RUMAH DUNIA
Ode Kampung
Parade Karya:
[KATA PENGANTAR BUKU ‘GERIMIS JANUARI’] MULTATULI: YA, AK U BAKAL DIBACA!
Parade Karya
Pustakaloka:
KIAT MENULIS RESENSI BAGI PEMULA
Pustakaloka
Rintisan Balai Belajar Bersama:
MENULIS RESENSI BUKU DI NaRD
Rintisan Balai Belajar Bersama
TBM@Mall Banten Membaca:
NGABUBURIT DI TBM@MALL CARREFOUR
TBM@Mall Banten Membaca
Tips:
CARA MENGUATKAN KARAKTER DI NOVEL SERIAL
Tips
Warta Relawan:
DARI PEDAGANG GORENGAN, JADI RELAWAN RUMAH DUNIA, WARTAWAN SEKALIGUS LOPER KORAN BANTEN RAYA POST, K
Warta Relawan

© RumahDunia.Net website RumahDunia.net sejak 24 Desember 2004