23 Juni 2007 - 06:43 (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
KONSEP RUMAH DUNIA: POTONG GENERASI!
Oleh Firman Venayaksa*)
Kehadiran perpustakaan sebagai tempat untuk mencari ilmu dan menggali informasi tentang pelbagai hal nampaknya memang tidak bisa disingkirkan dalam peradaban kehidupan manusia yang semakin pesat berkembang. Namun perpustakaan yang selama ini hadir ternyata hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita. Tidak menjadi barang skunder apalagi primer. Pada akhirnya buku menjadi barang lapuk dan rapuh, sendiri, sepi, dan tak banyak yang menggauli. Pertanyaan kemudian hadir, ada apa dengan masyarakat kita? Pertanyaan yang lebih ekstrim bergulir, ada apa dengan konsep perpustakaan kita?
Dua pertanyaan di atas agaknya penting untuk kita kaji, sebagai bahan untuk melejitkan pemahaman kita tentang masyarakat sebagai subjek yang seharusnya menggauli buku dan perpustakaan sebagai objek yang menyediakan buku. Penting untuk mengingatkan kembali bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang berititiktolak pada wacana-wacana lisan atau yang kita kenal dengan konsep aliterat, mereka bisa membaca tetapi tidak dijadikan kebiasaan dalam kehidupan keseharian. Pentingnya membaca tidak berkorelasi dengan pentingnya mencari uang misalnya, yang pada akhirnya membaca hanyalah menjadi penting bagi orang-orang yang ingin membunuh waktu.
Selanjutnya mari kita sedikit membincangkan stereo type perpustakaan di Indonesia. Kecenderungan perpustakaan sebagai tempat yang horor alias angker seperti kuburan sudah menjadi epidemik tersendiri bagi orang-orang yang mau mengunjungi perpustakaan. Buku-buku lapuk, rak-rak yang bisu, meja dan kursi yang kaku, pelayan perpustakaan yang mengunci rapat-rapat mulutnya untuk sekadar tersenyum nampaknya telah menjadi bagian ortodoks yang sulit untuk diubah. Mengapa harus selalu seperti itu? Mengapa tidak kita ciptakan sebuah lingkungan perpustakaan yang memiliki aura warna-warni dan berseri alias funky and sexy?
Subjek yang belum menjadikan buku sebagai konsumsi keseharian dan objek yang tak juga membuka diri dengan keadaan nampaknya betul-betul telah mengakibatkan terlahirnya jurang yang sangat dalam dan terjal. Bagaimanakah menjembatani jurang tersebut? Berdasarkan penguraian di atas, setidaknya kita bisa meramu hal-hal yang bisa kita perbuat.
Membuat masyarakat yang terbiasa tidak terbiasa membaca menjadi terbiasa dan membiasakan membaca memang bukan pekerjaan yang mudah. Perlu banyak waktu untuk mengubah kebudayaan tersebut. Hal yang paling radikal untuk mendesak agar masyarakat kita nantinya menjadikan membaca sebagai salah satu kebiasaan dalam menjalani kehidupan, menanamkan betapa pentingnya sebuah buku adalah dengan melaksanakan konsep ¡§potong generasi¡¨. Konsep ini berarti kita harus berani membetot (membagi dua) dari satu tubuh kehidupan manusia, mencari fase mana yang lebih mudah untuk didoktrin dan disodorkan sebuah bentuk kebaruan-kebaruan.
Halaman: [ 1 ] 2  
|