30 Juni 2007 - 20:16 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
MEMBANGUN KAMPUNG DUNIA
Oleh: Ibnu Adam Aviciena*)
Sudah lima bulan aku ada di Belanda. Itu berarti sudah lima bulan aku meninggalkan kampungku Kampung Ciwangun Tengah, Sukajadi, Cibaliung, Pandeglang, Banten. Sudah lima bulan juga aku pindah dari Kampung Indonesia ke kampung Belanda. Selama itu pengalaman baru aku temukan, buku baru aku baca, cara pandang baru tentang dunia aku miliki, mimpi baru sudah aku susun untuk membangun sebuah kampung bernama Kampung Dunia.
Perjalanan hidupku aku mulai dari kampungku, bagian dunia yang menerima kelahiranku, kampung Ciwangun Tengah. Aku menghabiskan masa kecilku di sana, tempat aku memulai mengenal arti perkawanan dan arti kampung. Di sana pula aku belajar menanam padi, memelihara kambing dan ayam, juga belajar memasak, mengurus rumah dan kebun. Sekolah Dasar dan Madrasah Tsanawiyahku di sana. Di kampung ini juga aku belajar berkelahi dan berkawan.
Lulus Tsanawiyah aku pergi ke Menes untuk sekolah di Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar. Dunia baru aku temukan di sana. Selagi aku SD aku biasa mengaji di pesantren, tapi di Menes aku lebih dari itu. Selagi aku SD dan Tsanawiyah pernah ada teman perempuanku yang bilang cinta kepadaku dan aku kebingungan harus menjawab bagaimana, tapi di Menes aku yang bilang cinta dan aku merasa sangat bahagia hanya karena melihat dia, perempuan yang aku bilang cinta kepadanya, tersenyum kepadaku.
Dunia baru aku temukan lagi di Tangerang saat aku kuliah D1 dan mesantren. Di kampus itu untuk kedua kalinya aku bingung menghadapi perempuan yang bilang cinta kepadaku sambil menangis. Dan di pesantren itu aku bersama teman Aliyahku, sahabat baikku. Di pesantren itu aku punya teman santri yang kemudian mengajakku ke Serang, ke kampung yang memperkenalkan aku dunia berikutnya. Dunia yang aku habiskan selama lima tahun. Selama lima tahun entah sudah berapa orang aku lukai, entah sudah berapa orang juga melukaiku. Namun orang-orang di sana juga yang mengajariku mencintai kampung dan penduduknya.
Namun cinta itu juga yang membuat aku meninggalkan Serang, meninggalkan orang-orang yang aku cintai di sana. Aku harus pergi ke kampung yang lain, kampung yang aku bayangkan saat aku Tsanawiyah, saat aku menanam kopi di kebun bersama kakaku. Kampung yang lain itu bernama luar negeri. Perkiraanku terjadi, aku tidak akan bisa berangkat tahun pertama aku lulus kuliah. Perkiraanku yang lain juga terjadi, kalau tidak ke Kanada, Amerika, atau Prancis aku akan kuliah S2 di Belanda. Saat aku menuliskan mimpiku untuk kuliah S2 di Prancis di Kacamata Sidik aku ada perasaan tidak enak, tetapi mimpi itu sudah dijalani.
Halaman: [ 1 ] 2 3  
|