18 Juli 2007 - 12:36 (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
KOMUNITAS RUMAH DUNIA DAN REGENERASI KESUSASTRAAN DI BANTEN
Oleh Firman Venayaksa
Dewasa ini, hiruk pikuk kesusastraan Indonesia disemarakan oleh pelbagai komunitas sastra. Pandangan para pengamat sastra dan pelaku sastra pun bervariasi. Sutardji mengungkapkan bahwa kecenderungan yang mewarnai kegiatan kegiatan mereka terutama ditentukan oleh visi sastra dan pandangan hidup dari tokoh-tokoh utamanya serta para pengelolanya. Ada komunitas yang cenderung pada kegiatan-kegiatan penampilan, penerbitan serta diskusi sastra dan seni relijius, ada komunitas yang cenderung agak "sekuler", ada pula yang lebih tertarik pada tradisi atau pada problem-problem setempat. Kemudian ia melanjutkan bahwa karakter individual para pengelolanya mewarnai "karakter" komunitasnya. Ada komunitas terasa sangat serius, terkesan ingin elitis, dan mencoba melakoni citra intelektual. Sebaliknya ada komunitas yang orang-orangnya lebih santai, lebih berupaya menikmati dan mensyukuri hidup dengan cara mencari dan menciptakan sisi gembira dari perih kehidupan, serta selalu bersikap kritis terhadap sesuatu yang berbau intelektual dan karena itu kelihatan sebagai komunitas yang anti-intelektual.
Pengamatan Sutardji terhadap komunitas sastra di Indonesia memang penting untuk dikaji lebih lanjut. Anggaplah ini sebagai paparan awal mengenai seluk beluk komunitas sastra. Sementara itu, Budi Darma memilih sikap yang berbeda dari kelahiran fenomena ini. Setelah melihat maraknya buku-buku antologi puisi yang diterbitkan oleh komunitas-komunitas sastra, ia menyebutnya sebagai ”kesemarakan yang tanpa prestasi estetik.” Lebih garang dari pernyataan Budi Darma, Saut Situmorang mengatakan bahwa komunitas sastra yang ada di negara ini hanya komunitas ”sastra arisanis” belaka. Namanya saja ”komunitas pengarang” tapi orientasi hidupnya bukan mengarang dalam kreatif kata tersebut, melainkan menunggu antrean arisan untuk diundang baca puisi atau baca prosa oleh komunitas sastra lain yang paling dominan kekuasaan uangnya. Pernyataan Saut ini lahir setelah membandingkan dengan komunitas lain dan menekankan pada politik sastra. Ia menegaskan bahwa komunitas pengarang yang sejatinya adalah perkumpulan sekelompok pengarang independen yang berideologi artistik yang sama, seperti yang kita kenal dalam sejarah peradaban Barat pada para pengarang Neo-Klasik, para pengarang Romantik, para pengarang Simbolis, para pengarang Ekspresionis, para pengarang Futuris, para pengarang Imagis, Dada, Surrealis, Absurd, Eksistensialis, Realis-Magis, Beat, L-A-N-G-U-A-G-E, Konkrit, Marxis, Feminis, Pascakolonial, Posmo…Dalam pemahaman lain Melanie Budianta mengakui bahwa kehadiran komunitas sastra pada awalnya terbentuk lebih karena ketidakmampuan mereka menembus mainstream. Dengan tegas ia mengatakan bahwa seorang pengarang tidak harus bergerak melalui komunitas sastra. Pengarang bisa saja bergerak seperti pengarang meteor dengan dukungan promosi yang baik. Pengarang seperti ini hanya dapat dilakukan jika memiliki akses terhadap mainstream.
Halaman: [ 1 ] 2 3 4  
|