19 Juli 2007 - 03:20 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
ODE KAMPUNG 2: PESTA PERAYAAN KOMUNITAS
Oleh Gola Gong
Ode Kampung 2 yang kini digagas bareng bersama komunitas-komunitas di Banten; Gesbica, Cafe Ide, Forum Kesenian Banten, Kubah Budaya, Forum Lingkar Pena, Komunitas Sastra Indonesia, dan Rumah Dunia ternyata mengundang polemik. Beberapa SMS yang masuk mempertanyakan tema-tema diskusi yang cenderung menyudutkan sebuah komunitas (baca: Komunitas Utan Kayu) dan jenis sastra tertentu (sastra kelamin). Tema yang diangkat adalah ”Komunitas Sastra: Ideologi dan Estetika”. Indikasi itu ”dianggap ada” di nara sumber seperti Helvy Tiana Rossa dengan gerbong Forum Lingkar Pena yang mengusung sastra islami. Padahal ada nara sumber penyeimbang; Maman S Mahayana dan Kurnia Effendi.
***
DANA - TERBUKA
Bagi saya ”Ode Kampung” adalah pesta sastra (komunitas) bagi rakyat . Yang rakyat sastrawan mensubsidi kadar intelektualnya kepada rakyat yang bukan sastrawan. Kita duduk sama tak berharta, berdiri sama tak berdasi. Kita saling berjabatan tangan, tanpa merasa paling pintar dan paling benar, apalagi menepuk dada hingga batuk-batuk. Firman Venayaksa, Presiden Rumah Dunia yang jadi Ketua Pelaksana ”Ode Kampung 2: Temu Komunitas Sastra se-Nusantara” mengungkapkan harapannya di Republika Minggu (7/7), ”Yang meras sastrawan atau bukan, silahkan datang ke Ode Kampung 2!” Jadi undangan hajatan ini sudah secara terbuka disebarkan di mailing list-mailing list dan koran-koran. Siapa saja dipersilahkan datang.
Masalahnya, ada juga para sastrawan yang keberatan datang karena merasa tidak diundang. Tapi ada juga sastrawan yang secara sukarela datang. Ini persis siang dan malam. Tidak apa-apa, Barangkali permasalahannya – biasanya – adalah urusan dana. Ya, tidak semua sastrawan dikirimi undangan oleh panitia Ode Kampung. ”Dananya terbatas,” kat Firman. ”Setiap komunitas kami fasilitasi 2 orang saja. Sekarang sudah 47 komunitas dari Aceh, Padang, Palembang, Lampung, Jawa, Madura, Kalimantan, hingga Sulawesi. Untuk ongkos, masing-masing peserta menangung sendiri. Panitia membantu mengirimkan undanan, agar mereka bisa berkompromi dengan Pemda setempat.” Tidak apa-apa. Dihutuhkan kerendahan hati untuk menyikapi situasi dan kondisi seperti ini.
BERAGAM
Binhad Nurrohmat, sastrawan yang dikategorikan mengusung ”sastra kelamin” dengan bijak menganalogikan hajatan Ode Kampung ”Seperti haji, bagi boemiputra dan boemiputri yang mampu silahkan pergi. Tak puas uang tak kembali. Masih ada haji tahun depan.” Dan Binhad berharp, ”Semoga bisa meredakan cekcok sastra akhir-akhir ini. Musuh utama sastrawan yan paling berbahaya adalah diri sendiri, bukan kelompok atau orang lain.”
Halaman: [ 1 ] 2 3  
|