26 Juli 2007 - 12:59 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
KEMISKINAN, KLENIK, DAN RELIJIUSITAS
Catatan Ringan “Badai Laut Biru” Karya Ahmadun Yosi Herfanda:
Oleh Gola Gong
Seusai hajatan “Ode Kampung 2: Temu Komunitas Sastra se-Nusantara”, 20 – 22 Juli di Rumah Dunia, sepulang kerja di hari Senin (23/7), saya meluncur ke Mambruk hotel, Anyer, Serang, Banten bersama Ruby Achmad Bhaedowy dari Forum Kesenian Banten. Kami diundang jadi juri lomba penulisan cerpen tingkat SLTP se-Provinsi Banten yang diselenggarakan Dindik Banten. Sambil menunggui kelimabelas peserta menuliskan cerpennya, saya melihat Ruby membawa buku “Badai Laut biru” (BLB) karya Ahmadun Yosi Herfanda (AYH). Saya pinjam buku itu. Saya rebah-rebahan di kursi. Suasana yang santai, debur ombak, membuat saya larut saat membaca keduabelas cerpen AYH yang realis hingga surealis. Saya merengut, tersenyum dan tertawa. Saya bergumam, “Ahmadun sedang menertawakan Indonesia!”
NEGERI MISKIN
Ya, AYH sedang menertawakan kita. Menertawakan prilaku kita yang munafik, kebodohan dan keangkuhan kita yang menduakan Tuhan, yang kikir saling sikut, saling berebut, dan saling mendustakan. Dengan menulis, saya pikir, AYH sedang melakukan terapi jiwa agar selalu bersemangat menyikapi kehancuran moral di negeri, yang pada kenyataannya gemah ripah loh jinawi aman tentrem kertaraharja hanya untuk sekelompok golongan saja. AYH sedang meninggalkan realitas di negri ini dengan masuk ke wilayah imajinernya, agar tidak jatuh sakit. Bukankah selama ini jika kita sakit selalu datang ke dokter dan menukar resep di apotik? Tapi, jika jiwa kita yang sakit apa obatnya? Rupanya bagi AYH menulis cepen adalah jalan lain menuju sehat dan saya sebagai pembaca bukunya seperti sedang meminum obat. Sembuhkah?
Jiwa saya sakit, kawan, jika memikirkan negeri yang carut-marut ini. Saya yakin Anda juga. Di buku Dr. Yusuf Al-Qaradhawi; ”Konsep Islam Solusi Utama bagi Umat” (Senayan Abadi Publishing, 2004), bahwa sistem liberalisme dan sosialisme adalah untuk membentuk keadaan ekonomi yang baik dan sempurna dengan mewujudkan peningkatan produksi dan keadilan distribusi. Kedua sistem itu berupaya mensejahterakan masyarakat; membuka lapangan pekerjaan dan upah yang layak, sehingga pemodal asing diperkenankan masuk. Tapi kenyataannya hanya isapan jempol belaka. Rakyat Mesir masih belum mandiri. Rakyat Mesir miskin dan masih mengandalkan impor dari negara lain, baik alat produksi, transportasi, maupun berbagai mesin industri. Ketika saya ke Kairo, Mesir, di bus-bus dan tempat umum, saya sering mendengar percakapan tentang sepak terjang Presiden mereka; Housni Mubarak yang jadi antek imprealisme. Bagi rakyat semua asal murah, walaupun mesti menggadaikan harga diri. Itu persis seperti yang terjadi di negeri ini sejak era Soeharto, bahkan kini SBY. Kita bersedia jadi keset bagi kaki mereka, yang penting segala keinginan terpenuhi tanpa memedulikan harga diri bangsa.
Di negeri kita buruh seperti sapi perahan dan petani serta nelayan tidak bisa menikmati hasilnya. Petani yang hanya minta harga gabah distabilkan, tapi pemerintah malah mengimpor beras dan nelayan gigit jari tak bisa melaut karena harga solar melambung. Sawah-sawah tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, malah berganti pabrik. Kelompok-kelompok umat Islam berseteru, dan kita saling curiga sesama anak bangsa karena perbedaan suku. Potensi-potensi ekonomi kerakyatan tidak pernah disokong oleh lembaga keuangan di negeri ini. Tampak sangat mencolok perlakuan mereka kepada pengusaha kelas kakap dengan pengusaha kecil yang notabene adalah pondasi ekonomi kerakyatan.
Halaman: [ 1 ] 2 3 4  
|