28 Juli 2007 - 00:46 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
Fikar W. Eda: JAKARTA MELEBIHI BELANDA    
Oleh Gola Gong
Saya menyalami Fikar W. Eda di ”Ode Kampung 2: Temu Komunitas Sastra se-Nusantara”, Sabtu, 21 Juli 2007. Selama ini saya hnya mengenal namanya di buku-buku kumpulan puisi. Sekali pernah bertemu di komunitas Kebon Nanas, saat istrinya bersama sanggar Davis Matahari bermusikalisasi puisi beberapa tahun lalu. Tangannya kokoh. Tubuhnya tegap. Dadanya bidang. Rambutnya panjang terurai. Rahangnya keras. Dia lebih mirip seperti seorang pemberontak ketimbang penyair. Ada magma di dadanya, yang kalau meletus bisa meranggas memakan segala.
Begitulah orang Aceh, yang terluka akibat terlalu lama ditindas. Untungnya Fikar seorang Muslim, yang meyakini bahwa”berjuang lewat pena” lebih kencang dampaknya. Seperti kata Prof. Madya Dr. Siti Zainon Ismail di cover belakang bukunya, ”Suara penyair ini tetap lembut, walaupun menyampaikan hal yang sinis. Sekali lagi sebagai putra Aceh, nilai islamis itu memang sarat dalam puisi Fikar. Bagi manusia Islam, doa mempunyai kesan penting.”
Di beberapa sajak, kata-kata yang Fikar pilih boleh lembut dan islami. Tapi, di sajak ”Seperti Belanda” yang ditulisnya pasca DOM, 1999, seperti kata Prof. Madya Dr. Siti Zainon Ismail di kata pengantarnya, ”Walaupun perang melawan Belanda sudah berakhir, namun kesan kemarahan itu masih berbekas. Dan Belanda dan Jakarta tidak ada bedanya. Di sajak ’Seperti Belanda’ nadanya langsung tanpa bersembunyi lagi”
Lihatlah! Magma di dada Fikar yang lahir di Aceh pada 1966 ini muncrat ketika berdiri di atas panggung Rumah Dunia, Sabtu malam, 21 Juli, pukul 20.00. Fikar membacakan sajaknya; Seperti Belanda, yang tergabung di antoloji puisi ”Rencong” (kerjasama Sajak dan Kasuha, cetakan kedua, Juni 2005) dengan raungan singa terluka! Ada nyeri di dada, rasa marah, dendam, geram, luka nanah bercampur jadi satu. Bacalah:
seperti Belanda
mereka atur siasat
membuat kami takluk
bertekuk lutut
seperti Belanda
mereka rebut hati kami
dengan cahaya janji
sambil mengutip kitab suci
seperti Belanda
mereka suguhi kami anggur
hingga kami mendengkur
lalu dengan leluasa
mengeruk perut kami
gas alam, minyak, emas, hutan,
sampai akar rumput bumi
seperti Belanda
mereka pun menghunus sangkur
dengan senapan siap tempur
rumah-rumah digempur
masjid, meunaseh
dibuat hancur
melebihhi Belanda
mereka perkosai istri-istri kami
mereka tebas leher putra-putri kami
mereka bunuh harapan dan cita-cita kami
melebihi belanda
itulah Jakarta!
Jakarta 1999
Ya, Jakarta memang melebihi Belanda. Dengan jargon pembangunan dan pendapatan asli daerah, mereka rampok kampung-kampung kita. Mereka berkongsi dengan penguasa dunia, merampoki harta-harta kita di Aceh, Dumai, Bontang, Buyat, Freeport, dan di seluruh sudut nusantra yang tak terpetakan!
Bagi saya, sajak "Seperti Belanda" semakin memperkuat prilaku kapitalistik dan liberalisme ekonomi yang salah kaprah dilakukan par pemimpin negi ini yang bermarkas di Jakarta. Merka berkongsi dengan para pengusaha lokal dan dunia. Bahkan celakanya, ada terselip penguasa yang pengusaha atau pengusaha yang jadi penguasa. Mereka lebih cocok sebagai preman proyek daripada negarawan.
Di Banten nasibnya sama. Tidak secara politik, tapi secara ekonomi wajah asli Banten dihancurkan. Sawah-sawah yang sejak jaman Sultan Ageng Tirtayasa menjadi lumbung padi, kini irigasi-irigasinya. dihujani limbah pabrik. Bahkan sawah-sawahnya ditanami pabrik. Gedung bersejarahnyapun, bekas Makodim di alun-alun utara Serang, dirobohkan dan berganti mall oleh pengusaha Jakarta. Rakyat dan para pahlawan Banten yang berdemo tipantati dengan angka-angka pretumbuhan. Ekonomi tetap jadi prioritas. ”Rakyat tidak akan kenyang makan sejarah!” begitu dalih mereka.
Ya, Jakarta melebihi Belanda.
Lihatlah bagaimana warga Porong dijadikan tumbal lewat tragedi lumpur Lapindo. Ketika pengusaha sekelas Abu Rizal Bakri merugi, peerintah menalangi hutang-hutangnya dan rakyat menderita. Tapi, jika pengusaha untung besar, duitnya masuk ke kantong-kantong mereka; sementara rakyat tidak sejahtera.
Ya, Jakarta melebihi Belanda!
*) Cover ”Rencong” oleh Syahnagra Ismail.
 
|