About  |  Activity  |  Home  |  Volunteer  |  Populer  | 
 
 

     Senin, 06 September 2010     
 R U B R I K
Agenda
Brankas
Catatan Perjalanan
English Version
Gerbang
Jurnal
Kelas Menulis
Kliping
Lintas Komunitas
Ode Kampung
Parade Karya
Pustakaloka
Rintisan Balai Belajar Bersama
TBM@Mall Banten Membaca
Tips
Warta Relawan
 Gerbang
PANEN RAYA [LAGI] DI RUMAH DUNIA
[Dari Taman Budaya Rumah Dunia hingga Riwayat Block Grant]
Oleh Gol A Gong Ketika Rumah Dunia menggelinding terus bagai bola salju, pada 2008 – 2009, saya mencoba peruntungan dengan menggalang dana di akun facebook saya; Gol A Gong. Ada tanah hampir seluas 1000 m2 di depan Rumah Dunia...
01 September 2010 - 03:38
Arsip... 
 Warta Relawan
DARI PEDAGANG GORENGAN, JADI RELAWAN RUMAH DUNIA, WARTAWAN SEKALIGUS LOPER KORAN BANTEN RAYA POST, K
Oleh Harir Baldan
“Alhamdulillah...” itulah kata syukur yang terucap dari mulut saya usai menggelar rapat evaluasi Pesta Anak Rumah Dunia, Minggu (25/7) lalu. Ucapan rasa syukur dan terima kasih itu saya haturkan kepada para donatur Rumah Dunia yang sudah membantu berlangsungnya kegiatan di...
08 Agustus 2010 - 00:40
Arsip... 
 Pustakaloka

28 Juli 2007 - 00:46   (Diposting oleh: Rumah Dunia)
Fikar W. Eda: JAKARTA MELEBIHI BELANDA    
Oleh Gola Gong

Saya menyalami Fikar W. Eda di ”Ode Kampung 2: Temu Komunitas Sastra se-Nusantara”, Sabtu, 21 Juli 2007. Selama ini saya hnya mengenal namanya di buku-buku kumpulan puisi. Sekali pernah bertemu di komunitas Kebon Nanas, saat istrinya bersama sanggar Davis Matahari bermusikalisasi puisi beberapa tahun lalu. Tangannya kokoh. Tubuhnya tegap. Dadanya bidang. Rambutnya panjang terurai. Rahangnya keras. Dia lebih mirip seperti seorang pemberontak ketimbang penyair. Ada magma di dadanya, yang kalau meletus bisa meranggas memakan segala.

Begitulah orang Aceh, yang terluka akibat terlalu lama ditindas. Untungnya Fikar seorang Muslim, yang meyakini bahwa”berjuang lewat pena” lebih kencang dampaknya. Seperti kata Prof. Madya Dr. Siti Zainon Ismail di cover belakang bukunya, ”Suara penyair ini tetap lembut, walaupun menyampaikan hal yang sinis. Sekali lagi sebagai putra Aceh, nilai islamis itu memang sarat dalam puisi Fikar. Bagi manusia Islam, doa mempunyai kesan penting.”

Di beberapa sajak, kata-kata yang Fikar pilih boleh lembut dan islami. Tapi, di sajak ”Seperti Belanda” yang ditulisnya pasca DOM, 1999, seperti kata Prof. Madya Dr. Siti Zainon Ismail di kata pengantarnya, ”Walaupun perang melawan Belanda sudah berakhir, namun kesan kemarahan itu masih berbekas. Dan Belanda dan Jakarta tidak ada bedanya. Di sajak ’Seperti Belanda’ nadanya langsung tanpa bersembunyi lagi”

Lihatlah! Magma di dada Fikar yang lahir di Aceh pada 1966 ini muncrat ketika berdiri di atas panggung Rumah Dunia, Sabtu malam, 21 Juli, pukul 20.00. Fikar membacakan sajaknya; Seperti Belanda, yang tergabung di antoloji puisi ”Rencong” (kerjasama Sajak dan Kasuha, cetakan kedua, Juni 2005) dengan raungan singa terluka! Ada nyeri di dada, rasa marah, dendam, geram, luka nanah bercampur jadi satu. Bacalah:

seperti Belanda
mereka atur siasat
membuat kami takluk
bertekuk lutut

seperti Belanda
mereka rebut hati kami
dengan cahaya janji
sambil mengutip kitab suci

seperti Belanda
mereka suguhi kami anggur
hingga kami mendengkur
lalu dengan leluasa
mengeruk perut kami
gas alam, minyak, emas, hutan,
sampai akar rumput bumi

seperti Belanda
mereka pun menghunus sangkur
dengan senapan siap tempur
rumah-rumah digempur
masjid, meunaseh
dibuat hancur

melebihhi Belanda
mereka perkosai istri-istri kami
mereka tebas leher putra-putri kami
mereka bunuh harapan dan cita-cita kami
melebihi belanda
itulah Jakarta!

Jakarta 1999

Ya, Jakarta memang melebihi Belanda. Dengan jargon pembangunan dan pendapatan asli daerah, mereka rampok kampung-kampung kita. Mereka berkongsi dengan penguasa dunia, merampoki harta-harta kita di Aceh, Dumai, Bontang, Buyat, Freeport, dan di seluruh sudut nusantra yang tak terpetakan!

Bagi saya, sajak "Seperti Belanda" semakin memperkuat prilaku kapitalistik dan liberalisme ekonomi yang salah kaprah dilakukan par pemimpin negi ini yang bermarkas di Jakarta. Merka berkongsi dengan para pengusaha lokal dan dunia. Bahkan celakanya, ada terselip penguasa yang pengusaha atau pengusaha yang jadi penguasa. Mereka lebih cocok sebagai preman proyek daripada negarawan.

Di Banten nasibnya sama. Tidak secara politik, tapi secara ekonomi wajah asli Banten dihancurkan. Sawah-sawah yang sejak jaman Sultan Ageng Tirtayasa menjadi lumbung padi, kini irigasi-irigasinya. dihujani limbah pabrik. Bahkan sawah-sawahnya ditanami pabrik. Gedung bersejarahnyapun, bekas Makodim di alun-alun utara Serang, dirobohkan dan berganti mall oleh pengusaha Jakarta. Rakyat dan para pahlawan Banten yang berdemo tipantati dengan angka-angka pretumbuhan. Ekonomi tetap jadi prioritas. ”Rakyat tidak akan kenyang makan sejarah!” begitu dalih mereka.

Ya, Jakarta melebihi Belanda.

Lihatlah bagaimana warga Porong dijadikan tumbal lewat tragedi lumpur Lapindo. Ketika pengusaha sekelas Abu Rizal Bakri merugi, peerintah menalangi hutang-hutangnya dan rakyat menderita. Tapi, jika pengusaha untung besar, duitnya masuk ke kantong-kantong mereka; sementara rakyat tidak sejahtera.

Ya, Jakarta melebihi Belanda!

*) Cover ”Rencong” oleh Syahnagra Ismail.  

 Kirim ke teman Versi cetak Beri nilai Komentar (View: 1048 | Refer: 1 | Print: 114 | Rate: 8.00 / 1 votes | Comment: 0)

Selanjutnya:
KOMUNITAS DAN GERAKAN LITERASI – 01 Maret 2008 - 01:27
Setelah Mendirikan 3600 Perpustakaan, DIMANAKAH KAU JOHN WOOD? – 24 Desember 2007 - 06:19
Antologi Cerpen Gola Gong: MUSAFIR – 08 September 2007 - 08:10
Labirin Lazuardi 3: PUSARAN ARUS WAKTU – 26 Agustus 2007 - 13:52
JIHAD TERLARANG – 25 Agustus 2007 - 23:24

Sebelumnya:
KEMISKINAN, KLENIK, DAN RELIJIUSITAS – 26 Juli 2007 - 12:59
TAK MENGIJINKAN KITA BERISTIRAHAT DAN MENGHELA NAFAS.  – 05 Juli 2007 - 13:42
ODE KAMPUNG – 02 Juli 2007 - 05:33
BEBEGIG – 02 Juli 2007 - 05:21
RINDU SOSOK PEDULI LINGKUNGAN – 23 Juni 2007 - 03:13

Supported by Intervisi

didukung oleh RumahSehat.com
 Artikel Terbaru
Agenda:
MINGGU INI, ADA KADO LEBARAN DI TAMAN BUDAYA RUMAH DUNIA
Agenda
Brankas:
RUMAH DUNIA MELUNCURKAN RINTISAN BALAI BELAJAR BERSAMA 2010
Brankas
Catatan Perjalanan:
RELAWAN RUMAH DUNIA MANCING DI GANDARIA
Catatan Perjalanan
English Version:
THE SECRET MILLIONAIRE
English Version
Gerbang:
PANEN RAYA [LAGI] DI RUMAH DUNIA
Gerbang
Jurnal:
KADO LEBARAN RUMAH DUNIA PESTA UNTUK ANAK
Jurnal
Kelas Menulis:
KELAS MENULIS RUMAH DUNIA ANGKATAN KE-16 DIBUKA
Kelas Menulis
Kliping:
MASYARAKAT YANG KACAU
Kliping
Lintas Komunitas:
FAHMIL QUR’AN: SAMBUT RAMADHAN DENGAN IKHTIFALAN
Lintas Komunitas
Ode Kampung:
ODE KAMPUNG #4: BANTEN ART FESTIVAL DI TAMAN BUDAYA RUMAH DUNIA
Ode Kampung
Parade Karya:
[KATA PENGANTAR BUKU ‘GERIMIS JANUARI’] MULTATULI: YA, AK U BAKAL DIBACA!
Parade Karya
Pustakaloka:
KIAT MENULIS RESENSI BAGI PEMULA
Pustakaloka
Rintisan Balai Belajar Bersama:
MENULIS RESENSI BUKU DI NaRD
Rintisan Balai Belajar Bersama
TBM@Mall Banten Membaca:
NGABUBURIT DI TBM@MALL CARREFOUR
TBM@Mall Banten Membaca
Tips:
CARA MENGUATKAN KARAKTER DI NOVEL SERIAL
Tips
Warta Relawan:
DARI PEDAGANG GORENGAN, JADI RELAWAN RUMAH DUNIA, WARTAWAN SEKALIGUS LOPER KORAN BANTEN RAYA POST, K
Warta Relawan

© RumahDunia.Net website RumahDunia.net sejak 24 Desember 2004